First blog post

This is your very first post. Click the Edit link to modify or delete it, or start a new post. If you like, use this post to tell readers why you started this blog and what you plan to do with it.

post

Advertisements

Coklat Kacang


Jeon Jungkook => Jeoni Aprilio

Elly Rahma => Fellysia Putri

.

.

.

.

CEMBURU

.

.

.

.

Semenjak kejadian salah peluk itu, sekarang Elly kalo ketemu June jadi canggung. Dan sialnya, hampir tiap minggu dia ketemu June di-Apartemen Jeoni. Tapi itu gak masalah kok buat Elly, justru dia seneng bisa ketemu June terus. Soalnya June sangat bertolak belakang dengan kekasihnya, Jeoni. Kalo Jeoni cuek bebek kalo gak Elly dulu yang ngomong dia gak ngomong, kalo June, begitu deket Elly langsung nyerocos kayak petasan. Awalnya Elly agak kaku sama hal itu, tapi lama-lama dia nyaman. June perhatian sama dia, June juga baik sama dia. Entah ini ada udang dibalik tongseng atau emang sifat June kayak gitu, Elly cuma bisa berpikiran positif. Lagian dia gak mau berkhianat, sekalipun pacarnya sendiri malah justru sering bikin dia jengkel.

Hari ini Jisoo ulang tahun, Elly udah bersiap untuk datang kepesta, ada Chanu yang sedari tadi menunggunya diruang tamu. Merasa dandanannya udah pas, Elly bergegas keluar menghampiri Chanu yang lagi asik main hp.

“Berangkat sekarang kak?” Tanya Elly begitu berada didekat Chanu. Pria bongsor itu menoleh, bukan menjawab pertanyaan Elly. Chanu malah melongo, dia terpana melihat adik sepupunya sekarang.

Elly mengernyit, dia memastikan penampilannya sekali lagi. Chanu menatapnya dari ujung kaki sampai ujung kepala. Dress selutut warna soft peach dengan pita kupu-kupu didada sebelah kanan. Serta ikat pinggang dari pita dengan warna senada, memberi kesan kasual untuk gadis berusia 20 taun tersebut, rambutnya yang di gerai curly bawah menambah kesan manis. Make-up tipis serta sentuhan lipbalm warna light pink membuat wajah mungilnya begitu menghipnotis mata yang melihatnya, Elly mengerjapkan matanya saat Chanu berdiri didepannya. Ini ekspresi Chanu udah kayak hewan pemangsa ayam yang sering muncul dikebon atau sawah itu (gue gak tau bahasa indonesianya apaan 😭).

Merasa gugup Elly lantas mundur selangkah dari hadapan Chanu.

“Kakak kenapa sih?” Tanya-nya gugup.

“Gue ngeliat Exy WJSN disini” celetuk Chanu.

“Cantikan Elly” kesal Elly.

“Iya bener, cantikan elo emang. Gila,,,boleh khilaf gak sih gue?”

“Eh eh,,,jangan ngawur ya. Inget aku ini siapamu” pekik Elly sambil mengambil bantal siap ngelempar Chanu.

“Buta si Jeoni sumpah, punya HQ kayak gini dicuekin. Berapa abad sih El, gue gak liat elo semenjak elo ikut paman pindah kesini? Kok makin kinclong?”

“Lebay ya, baru juga satu setengah taun, dua taun belum genap kak. Gak usah heran, disini Elly sering perawatan bareng Jisoo tau. Makanya kakak mau aja aku jodohin sama Jisoo. Dia juga cantik lho”

“Kalau gak kayak elo gue gak mau, gue mau sama elo aja”

“Sampis”

Chanu malah ketawa mendengar ucapan Elly barusan, dia emang suka ngegoda Elly. Sejak kecil mereka jarang bersama, karna orang tua Chanu ngelarang Chanu dekat dengan Elly. Lah kenapa? Alasannya singkat, Chanu itu kurang ajar sejak lahir. Dia pernah nyium anak tetangga sampai pingsan gara-gara dia bilang gadis itu terlalu cantik. Sedangkan Elly dulu kecilnya kayak ‘Aleyna Yilmas’ ulzzang kids asal korea itu. Demi keamanan bersama, Chanu gak pernah dibolehin main bareng Elly. Tapi yang namanya sodara, tetep aja kan akhirnya mereka dipertemukan. Tapi Chanu mengenal Elly ketika mereka sama-sama masuk SMA, karna masa SD-SMP Chanu. Dia berada di Jepang.

Karna waktu menunjukkan pukul 19.45 waktu setempat, akhirnya mereka segera berangkat ke acara pesta ulang tahun Jisoo.

———-

Suasana pesta cukup ramai, banyak para tamu undangan baik dari temen kampus maupun rekan kerja orang tua Jisoo memenuhi rumah mewah ala America latin tersebut. Chanu sama Elly jalan bergandengan menerobos kerumunan orang-orang, ini pemandangannya udah kayak suami-istri pergi kondangan gitu. Masalahnya Elly juga gak ada pilihan buat gak ngajak Chanu, pacarnya sebut saja Jeoni. Dia lebih mementingkan tugas jurnal mingguannya ketimbang meluangkan waktu barang semalam untuk menemani Elly ke acara ulang tahun sahabatnya itu.

Melihat kedatangan Chanu sama Elly, Jisoo lantas antusias menyambutnya. Inget,,,Jisoo itu fans fanatik-nya ‘kak Chanu’ kalau jalan sama Elly yang dibahas pasti kak Chanu.

“Fellys” panggil Jisoo sambil berlari kecil kearah Elly.

“Haiii” Elly melambaikan tangannya.

“Eh ada kak Chanu” tuh kan dibilang juga apa? Jisoo menyengir ketika Chanu menatapnya.

“Happy B’day ya Ji,,,panjang umur, sehat selalu, makin cantik, dan cepet jadian sama kakakku ini” ucap Elly sambil nyenggol lengan Chanu.

“Hehe,,,makasih ya Fel,,,amin. Jadi kapan kita taken kak?” Jawab Jisoo sambil gelayutan dilengan Chanu.

“Besok pagi, sekarang udah malem gue laper” respon Chanu yang justru malah beranjak kemeja catering. Jisoo mengikuti langkah Chanu, sedangkan Elly ditinggal begitu saja.

“Eh,,,sialan gue ditinggal” gumam Elly sambil celingak-celinguk. Karna merasa gak mengenal para tamu undangan, Elly pun ikut nimbrung Chanu kemeja catering.

Baru aja dia nyomot piring, seseorang telah menyodorkan sepiring coklat kacang. Elly terhenyak dan menoleh kearah orang tersebut, orang tersebut tersenyum. Begitu juga Elly.

“June, elo dateng kesini juga?” Sapa Elly. Iya itu June.

“Hemm,,,iya. Elo sama siapa kesini?” Tanya June kemudian.

“Tuh” Elly nunjuk Chanu yang lagi sibuk ngambilin makanan dan dikuntit Jisoo dibelakangnya. June menoleh kearah yang ditunjuk Elly.

“Oh,,sama Chanu. Kenapa gak ngajak gue aja?”

“Eh,,,mana tau kalo elo juga dateng?”

“Elo gak nanya sih? Papa gue temen bisnisnya Papa Jisoo, jadi gue dateng kesini karna diajak mereka”

“Enggak sama Mawar?” Tanya Elly tiba-tiba.

“Enggak, dia sibuk belajar buat tes semester depan. Dua bulan lagi kan udah pergantian semester”

“Rajin ya pacar lo, sama kayak punya gue. Diajak pergi gak mau, alasannya sibuk ngerjain jurnal”

“Haha curhat lo? Kasian ya lo, punya pacar kayak gitu, mending selingkuh aja sama gue” celetuk June yang membuat Elly terbelalak. June terkekeh melihat Elly berekspresi demikian.

“Becanda gue elah, gue gak mungkin makan temen sendiri. Ntar gue bisa almarhum kalo berani nyentuh elo” lanjut June yang justru membuat Elly salah tingkah.
Gue gak baper kok June





#######

Sreeeettttttt…..sssrrreeeettttt,,,,

Kkrrreeekkkkk,,,,,kkrrreeekkk,,,,

“Aaarrrrggghhhhh”
Jeoni mengusak-usak rambutnya sampai berantakan gara-gara dari tadi sore sampai sekarang gak berhasil ngebuat jurnal, entah kenapa dan ada apa? Jeoni jadi gak fokus. Bahkan tempat sampah disebelah meja belajarnya sudah penuh sama kertas yang ia sobek terus diremas dan dilempar kesana. Sepertinya dia butuh mastin?.

Karna gabut, dia akhirnya menghempaskan tubuhnya keatas ranjang. Kepalanya cukup pening, tangannya menyusuri matras, mencari benda persegi kesayangannya (hp). Begitu ia menemukannya, ia lantas membuka mata yang tadi sempat ia pejamkan karna terasa pedih akibat melototin buku terus.

Dibukanya lock screen ponselnya, ada 3 notifikasi pesan. Itu dari Mama, Kak Juwi dan terakhir June. June? Ngapain dia sms Jeoni? Kan Jeoni udah bilang gak dateng ke pestanya Jisoo? Karna penasaran, Jeoni membuka pesan tersebut.

Yakin lo gak dateng kepesta? Elly sendirian nih disini, eh enggak deh dia sama Chanu. Tapi Chanu lagi menye-menye sama Jisoo. Inilah yang dinamakan ‘pucuk dicinta ulam pun tiba’ ya kan? Elo gak dateng, dan gue? Mawar gak mau gue ajak pergi. Kebetulan yang sangat berfaedah 😍 jangan salahin gue ya kalo gue manfaatin kesempatan ini 😚 semoga malammu menyenangkan πŸ‘‹


Jeoni meremas ponselnya, sialan punya temen kampret begitu. Mau gak kesal tapi Jeoni udah liat sendiri betapa kurang ajarnya June yang dengan sengaja meluk Elly didepan dia beberapa hari yang lalu. Entah itu imbal balik acara salah orang waktu itu, atau emang June sengaja manas-manasin Jeoni. Yang jelas Jeoni gak suka orang lain nyentuh ‘miliknya’. Cuek itu boleh, tapi kalau kita cuek terus ada laler sering ngerubutin makanan begini, siapa juga yang bakalan bisa? Tunjukin ke Jeoni orangnya, seenggak pedulinya Jeoni ke Elly, dia tetep cemburu kalo Elly dideketin cowok lain. Egois? Enggak tau gue? Dia sulit dipahami.
Karna gak pingin punya gambaran buruk tentang apa yang akan June lakukan terhadap Elly, Jeoni lantas bangkit dari acara rebahan dan pergi kekamar mandi buat membersihkan dirinya, selesai dari kamar mandi ia lantas menyambar jaket yang ia gantung di pintu lemari. Tak lupa hp sama kunci mobil, mau kemana dia? Ke kang ojek? Ya enggak lah, dia mau ke kutub utara nyari pinguin abu-abu. Yang bener aja πŸ˜‚ ya jelas mau nyusulin mbak pacar lah. Nanti mbak pacar didegem orang? Bisa patah hati berkepanjangan, melihat beberapa minggu ini Elly begitu dekat dengan June. Warning,,,,BlackPink In Your Area eh bukan salah Burn Baby Burn πŸ”₯πŸ”₯ panas hati ini melihat pesan kampret yang dikirim June barusan.
Marah boleh Jeoni, kesal, cemburu sah sah aja. Tapi hati-hati dijalan ya πŸ˜‚

πŸ˜’πŸ˜’πŸ˜’πŸ˜’πŸ˜’πŸ˜’πŸ˜’πŸ˜’

Lima belas menit kemudian Jeoni sudah sampai diparkiran yang disediakan keluarga besar Jisoo untuk tamu undangan pesta malam ini. Dia lantas keluar dari mobilnya dan bergegas mencari dimana posisi Elly sekarang. Banyak orang disini, Jeoni juga gak bawa kartu undangan, gimana masuknya? Dia mencoba menelfon Elly, namun gak dijawab, nelfon June juga sama. Chanu? Dia gak punya nomor Chanu.

“Sial”

Umpat Jeoni kesal, karna dia gak punya akses masuk karna pesta dijaga ketat, akhirnya Jeoni mengitari rumah besar itu, siapa tau Elly dibawa June ketempat gelap. Baru beberapa langkah ia mengelilingi rumah mewah ini, langkahnya harus terhenti karna sebuah objek tidak jauh darinya telah menarik perhatiannya. Dugaan Jeoni tidak pernah salah, batin Jeoni selalu benar. June, cowok itu tengah duduk bersama Elly diayunan Playground disebelah rumah Jisoo. What is the f*ck?.



=======



“Bosen banget gue, keluar yukk. Males gue ngeliatin orang gak kenal. Sekalian nyari udara segar” ajak June tiba-tiba ketika mereka tengah menikmati kue ulang tahun yang baru saja selesai dipotong. Elly menganggukkan kepalanya tanda setuju, jujur daritadi Elly juga punya niatan begitu. Tapi gak enak ngomongnya, kebetulan June sependapat akhirnya dia ngikut aja. Setelah meletakkan piringnya, mereka bergegas keluar rumah dan berjalan menuju playground disebelah rumah Jisoo.

Mereka mendudukkan diri di ayunan, menikmati suasana indah malam ini sambil melihat ribuan kerlip bintang menghiasi langit gelap diatas sana. Elly mendongakkan wajahnya, matanya termanjakan akan kilauan bintang dilangit. Dia tersenyum, ini June udah melancarkan niatnya sesuai apa yang ia bilang ke Jeoni tadi. Memanfaatkan kesempatan? Kesempatan apa? Menatap wajah Elly lama-lama, mumpung Tuhan sedang berbaik hati mau meminjamkan waktunya hanya untuk berdua dengan Elly.

Biarkan aku mengagumimu dengan caraku, karna bagiku kau hanyalah fatamorgana.

“Jadi keinget sama kata-kata Jeoni” celetuk Elly tiba-tiba.

“Emang dia bilang apa?” Respon June.

“Dia bilang, dia sangat menyukai bintang, karna mereka selalu setia menemani malam. Tidak seperti bulan yang akan sembunyi ketika sudah memasuki tanggal tua, bintang gak mengenal waktu. Mau tanggal muda mau tanggal tua, mereka selalu hadir menghiasi luasnya angkasa. Kecuali mendung nakal menutupinya” jelas Elly dengan gamblang. June tersenyum tipis, ada sesuatu bergejolak didadanya mendengar ucapan Elly barusan.

“June”

“Hemm”

“Makasih ya”

“Buat apa?”

“Karna elo udah mau ngenal gue, elo juga udah baik sama gue. Jujur sebenernya gue masih gak enak sama elo tentang kejadian waktu itu, tapi karna elo terlalu supel. Gue jadi nyaman” Elly tersenyum sembari menatap June.


Tolong jadikan aku alien dan ijinkan aku menculiknya biar Jeoni gak marah.


Pipi June memanas melihat senyuman Elly, jantungnya tengah dugem heboh. Mawar gak pernah bikin dia begini? Apa harus dia menukar Mawar dengan Melati biar dia bisa ngerasain hal yang sama ketika ia bersama Elly seperti sekarang?

“Hehe”

Hanya itu yang keluar dari mulut June, dia salah tingkah sambil menggaruk-garuk belakang kepalanya yang sebetulnya itu gak gatel.

“Terkadang, kalo kita bertiga ngumpul. Gue suka sedih June” tambah Elly.

“Sedih kenapa?” Respon June.

“Elo gak sadar kalo Jeoni tuh cueknya kebangetan?”

“Oh,,,itu. Dimaklumin ajalah ya, udah sifatnya sih, dikampus juga gitu kok. Bukannya elo justru jauh lebih paham tentang dia ya daripada gue? Secara kan kalian dulu pernah satu SMA?”

“Tapi terkadang gue capek June, ngalah dan terus mengerti dia. Sedangkan dia seolah penyakit kronis yang sulit sembuh, always continue make me weird. Gue gak minta dia bisa kayak elo atau kayak cowok-cowok lain diluar sana yang romantis atau apalah itu? Enggak, gue cuma pengen dia sedikit peduli sama semua perhatian dan rasa sayang gue ke dia. Nurutin apa mau gue, permintaan gue. Gue gak pernah nuntut dia buat menuhin kok, karna gue sadar itu namanya keterlaluan. Kalau sampai gue maksa dia buat nurutin semua mau dan keinginan gue. Setidaknya sekali aja gitu dia ngeluangin waktu buat—“

Ucapan Elly terhenti karna June tiba-tiba mengacungkan telunjuknya didepan bibir Elly. Gadis itu membulatkan matanya melihat perlakuan June.

“Enggak usah curhat, gue gak mau denger itu. Cukup elo rasain sendiri aja sedih lo, gue yang akan buat lo bahagia. Gue gak suka liat cewek sedih-sedih, hati gue sakit kalo tau itu. Gue suka liat cewek yang selalu tersenyum dan ceria ketika berada dekat dengan gue. So,,,please don’t say anymore. Be happy with me, i’ll make you feel good side me

Elly menundukkan wajahnya, persetan dengan rasa sayangnya dengan Jeoni jika ia begitu nyaman disisi June. Dia merasakan kedua tangan kekar June menangkup wajahnya. Manik coklatnya bertemu dengan manik sipit milik June Pratama.

Don’t be sad girl, give me your smile. Elo jelek kalo manyun” tambahnya yang akhirnya membuahkan sebuah cubitan dilengannya.

“Aaaaaarrrrggghhhh,,,,,sakit” pekiknya.

“Siapa suruh tadi ngejunjung tinggi kelangit terus ngejatohin?” Geram Elly.

“Gue kan jujur, elo emang cantik kalo senyum. Tapi bakal keliatan jelek banget kalo cemberut gitu” jelasnya. Elly melepas cubitannya dan tertawa geli. June sebaliknya.

Mereka menikmati malam seolah malam ini Tuhan telah menyewakan moment seperti ini untuk mereka, tidak ada rencana untuk ini. Tapi Tuhan sudah mensetlenya dengan tepat, satu hal yang tidak pernah mereka sadari. Sepasang mata mengawasi apapun yang mereka lakukan sedari tadi.

Jeoni? Iya, pria itu berdiri 100 meter dari posisi June dan juga Elly sekarang. Jeoni mendengar semuanya, Jeoni melihat semuanya. Lalu apa? Dia hanya bisa menggenggam kuat-kuat kedua tangannya, tangannya terkepal sempurna. Jika ada orang yang mau dengan suka rela menyerahkan wajahnya untuk Jeoni, mungkin sudah bisa dipastikan kalau wajah orang itu perlu dioperasi plastik setelahnya. Egois hanya membawa Jeoni kedekat api, dia terbakar cemburu.


It’s more than just enought.


πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯

STAY


#Epilogue

*Marathon Chapter





……….πŸ’§………






Enggak kerasa seminggu udah berlalu begitu saja, Amel, Yoyo dan juga Jinan telah kembali ke aktifitas masing-masing. Sekolah masih libur, ini menjelang akhir tahun. Awal tahun mereka bakal berperang dengan semester akhir dan juga ujian nasional, selagi masih libur mereka benar-benar memanfaatkan waktu itu dengan sebaik mungkin.

Pagi ini contohnya, Yoyo sama Jinan ngajak Amel pergi mancing ke pemancingan. Rumah mereka yang tak terlalu jauh membuat kedua bocah itu keseringan nyamperin Amel, padahal Amel kan cewek? Eits,,,jangan salah. Dimasa putih-biru mereka dulu, Amel adalah anggota genk mereka. Yoyo, Jinan, June, Chanwoo, Vernon, Mingyu dan terakhir Amel. Mereka dulu tergabung satu genk pembuat onar disekolahan, disini Chanwoo ketuanya. Paling berisik dan suka tawuran, Yoyo sama Jinan kompornya, sisanya anggota.

Ketika masuk SMA, Vernon, Mingyu sama Chanwoo misah. Sedangkan June, Jinan, Yoyo mereka satu sekolahan sama Amel. June menjabat jadi ketua team basket disekolahannya, Amel cheerleadernya. Yoyo sama Jinan anggota OSIS seksi kesenian, masa pertama masuk sekolah. Kelakuan Amel masih sama, hingga tiga bulan setelah resmi menjadi siswi SMA Nusantara. Dia tobat karna dipertemukan dengan Hanbin, ketua kelas IPS. Amel terpesona dengan Hanbin karna kedisiplinan serta keuletan Hanbin dalam belajar. Dia sering juara disetiap olimpiade sekolah, dan itu menambah point ketidak sanggupan seorang Amel untuk bilang ‘Gue gak tertarik sama Hanbin’.

Banyak yang melirik pemuda tampan itu, tapi sayang? Entah ajaib, anugerah, rejeki atau halusinasi. Hanbin memilih Amel menjadi kekasihnya hanya karna Amel menyanyikan lagu ‘Dewa 19’ yang berjudul ‘Pupus’, itu adalah jurus terampuh Amel ketika MOS disuruh ngebuat puisi cinta. Karna dia tak berhasil, kakak kelas menghukumnya dan menyuruhnya bernyanyi sambil joget. Dan lagi,,,harus merayu salah satu peserta dengan lagu itu. Dan apes-nya Amel memilih Hanbin.

Lima belas menit perjalanan, mereka telah sampai ditempat pemancingan. Suasana cukup ramai, mungkin karna masa liburan. Jadi banyak pengunjung datang untuk sekedar refreshing, mereka memilih spot didekat rumah makan apung. Kata Jinan, nanti kalau dapet ikan langsung dibakar aja buat menu makan siang. Yoyo sama Amel mendukung usul Jinan, kini mereka tengah mempersiapkan umpan untuk acara mancing mereka.

“Pasti disini ikannya kebanyakan berjenis kelamin cewek nih” celetuk Yoyo yang ngebuat Jinan sama Amel menatapnya heran.

“Liat aja tuh yang mancing, cogan semua. Yang cewek cuma elo doang Mel” lanjutnya.

“Emang gue cewek?” jawab Amel yang ngebuat mereka jadi tertawa bersama.

“Gue masih inget dulu pas kita tawuran sama anak SMP 17Agustus, waktu itu elo yang kita jadiin umpan. Awalnya gue khawatir takut elo babak belur dikeroyok sama mereka. Tapi gue salah, Amelia Novita Sari bukanlah seorang gadis. Melainkan cowok maco dengan kesing cewek cungkring yang tiap hari kerjaannya make gincu biar bibirnya gak kering”

“Hahahahahahaha” tawa mereka kembali pecah ketika Jinan membuka kenangan mereka lima tahun lalu, dimana Amel masih polos dan gampang disetir. Amel benar-benar bisa melupakan masalahnya dengan Hanbin ketika bersama dua sahabatnya ini, dia yang biasanya diam. Selalu menyendiri, murung dan kadang emosian. Untuk beberapa minggu ini ia telah kembali ke Amel lima tahun lalu, Amel yang ceria, Amel yang suka kelayapan bareng Jinan sama Yoyo. Amel yang suka ikutan main gaplek tapi dia jadi korban kekalahan teman mainnya, tidakkah Hanbin rindu kekasihnya yang seperti ini?

πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦

“Abis ini kita kemana?”

“Emm,,kita ketempat pemancingan aja gimana? Gue lagi pengen makan ikan bakar”

“Okey”

Hanbin menuruti keinginan Jennie, hari ini cafe tempat Hanbin bekerja tutup. Jadi mereka bisa libur untuk sehari, Jennie rekan duet Hanbin di cafe itu, sejak tadi pagi sudah bersama Hanbin. Dia sengaja mengajak Hanbin jalan-jalan karna beberapa hari ini Hanbin kelihatan kurang semangat, entah karna kurang enak badan atau karna masalah. Jennie tidak tau, dan tidak ingin mencari tau. Tapi yang jelas, disini Jennie pengen ngebalikin semangat Hanbin lagi.

Sepuluh menit dari hypermart, Hanbin sama Jennie sudah berada di tempat pemancingan. Mereka tengah mencari-cari spot yang pas untuk berburu hewan berenang itu, beberapa langkah dari pintu masuk mereka melihat ada satu spot yang masih kosong. Dan mereka pun memilih disana.

“Ramai juga ya” keluh Jennie.

“Mungkin karna libur akhir tahun kali” respon Hanbin. Jennie mengangguk, mereka lantas menyiapkan alat pancing beserta umpannya. Begitu siap, mereka melempar umpan tersebut bersamaan.

πŸ’”πŸ’”πŸ’”πŸ’”πŸ’”πŸ’”

Sudah setengah jam mereka duduk sambil bertopang dagu, tapi kail pancing mereka belum juga ada yang memangsa, Yoyo yang sudah bosan lantas merebahkan dirinya dikursi gazebo.

“Gampangan mancing cewek daripada mancing ikan” gerutunya saat tubuhnya telah menempel sempurna dilantai gazebo.

“Gaya lu kutil kuda, jomblo aja belagu pake bilang ‘gampangan mancing cewek daripada ikan’ ngimpi lo” protes Jinan.

“Eh unyil korea, gak usah sirik sama gue. Jomblo itu pilihan, gue yang milih buat jomblo. Kalau gue mau, banyak kok yang ngantri” Yoyo gak mau kalah.

“Sempak tapir, jomblo lo kata pilihan, nasib lo itu. Gak usah belagu, mereka ngantri bukan mau jadi pacar elo, mereka ngantri buat nabokin elo karna keseringan lo ampasin”

“Bekicot sawah kalo ngomong suka gak ngaca? Elo apa bedanya ama gue kutil”

“Sialan lo ngatain gue kutil” Jinan nggak terima dikatain ‘kutil’. Alhasil mereka saling jitak, Amel yang masih setia sama kailnya cuma jadi penonton. Merasa jenuh juga karna umpannya gak ada ikan yang mau makan, Amel mengedarkan pandangannya kesegala arah.

Dan alangkah terkejutnya dia saat kedua matanya menemukan sosok Hanbin tengah bersama gadis lain.

……….PUTUS.……..

Malam ini Amel memutuskan untuk pergi kerumah Hanbin, sepulang dari pemancingan ingatannya tidak pernah lepas dari apa yang ia lihat tadi siang. Hanbin tengah memancing dengan seorang gadis disampingnya, bahkan Amel sempat melihat Hanbin dengan begitu saja memeluk gadis itu. Sakit, sesak bercampur didadanya melihat kekasihnya demikian. Apakah ini alasan Hanbin selama ini berubah? Jika memang Hanbin lebih nyaman dengan gadis itu? Kenapa ia tak pernah jujur dengan Amel tentang perasaannya?.

Belum sampai Amel dirumah Hanbin, langkahnya harus terhenti. Dia kembali melihat Hanbin masih bersama gadis tadi, Amel menyembunyikan dirinya dibalik semak ketika Hanbin kini berada dihalte bus tak jauh dari dirinya sekarang.

“Yakin gak mau gue anter?”

“Enggak usah, ntar ngerepotin. Gue bisa pulang sendiri kok”

“Yaudah hati-hati aja kalo gitu”

“Heemm,,,makasih ya udah mau nemenin jalan seharian ini”

“Gue juga makasih elo udah bikin gue seneng seharian ini”

“Hehe it’s okey boy. Salam buat kak Hani, maaf gak bisa pamitan”

“Iya ntar disampein”

Bye bye,,,”

Hanbin melambaikan tangannya ketika gadis itu sudah bergegas masuk bis, ia mengamati gadis itu hingga bis menghilang dikeramaian jalan. Hanbin lantas melangkahkan kakinya menuju rumah, namun alangkah terkejutnya dia saat Amel telah berada dihadapannya.

Gadis itu menatapnya tajam seolah mengintimidasi, Hanbin memalingkan wajahnya. Enggan menjelaskan apapun.

“Jadi karna dia elo begini?” ucap Amel sedikit bergetar. Hanbin yang hendak melanjutkan langkahnya lantas mengurungkan niatnya. Ia menoleh kearah Amel, gadis itu masih setia menatapnya.

“Gue bukan elo yang suka seenaknya jalan sama orang lain ketika pacarnya sendiri ngajak jalan” balas Hanbin dingin.

“Siapa pacar gue?” balas Amel tak mau kalah.

“Oh,,jadi gitu? Mentang-mentang June itu lebih keren karna dia anak basket? Atau emang selama ini, gue aja yang gak pernah peka terhadap kedekatan kalian yang mengatas namakan persahabatan itu”

Tanpa sadar kedua tangan Amel terkepal mendengar ucapan Hanbin barusan, seperti ditonjok sekuat tenaga. Dada Amel begitu sakit mendengar kekasihnya sendiri dengan begitu tega berkata demikian.

“Bin,,,mau sampai kapan sih lo kayak gini? Cemburu itu boleh Bin, wajar. Tapi kalau elo egois dengan mengatas namakan cemburu? Gue kecewa Bin, gue bener-bener gak nyangka kalo selama ini gue mencintai pria gak punya hati kayak elo. Jujur Bin, gue capek buat terus-terusan ngalah. Gue sakit cuma buat ngertiin elo, tapi elo? Kemana Hanbin gue yang dulu? Kemana perhatian dan pengertian Hanbin dua tahun yang lalu? Kemana rasa sayang Hanbin yang tulus buat Amel yang dulu? Apa semudah itu Bin elo ngebuang semuanya hanya karna cemburu? Udah gak kehitung Bin, berapa kali gue jelasin ke elo siapa June? Dan apa arti June buat gue? Tapi elo tetep aja beranggapan kalau gue sama June ada main api dibelakang lo, June gak gila Bin, June juga gak buta. Dia tau status gue itu pacar elo, dan gue tau June gak mungkin punya pikiran buat ngajakin gue berhianat”

“Itu menurut lo kan? Itu hanya dari segi pandang lo aja. Gue cowok Mel, gue tau gimana cara June ngeliat elo. Elo-nya aja yang gak sadar. Elo…”

“Cukup Bin,,,gue capek berdebat terus sama elo. Kalo emang elo masih kekeh beranggapan kalo gue ada apa-apa sama June? Itu hak lo, gue udah lelah buat ngeyakinin ini semua ke elo. Kalo elo kayak gini karna elo udah nemuin yang lebih bisa ngebahagiain elo, gue ikhlas buat ngelepas elo Bin”

Tutup Amel, sepanjang ucapannya ia mati-matian menahan airmatanya untuk tidak terjatuh. Hatinya begitu sakit, Hanbin terdiam untuk sesaat. Mereka saling menatap.

“Jadi maksud lo apa?”

“Kalo elo emang udah gak ada rasa apa-apa lagi sama gue karna elo udah terlanjur cemburu sama June, kita sudahi semua ini Bin”

“Jadi elo mau kita putus?”

Amel terdiam, airmatanya sudah meluncur. Namun ia menyembunyikan itu dari Hanbin.

“Baiklah kalo itu keputusan lo, let’s break from now on

Setelah berkata demikian Hanbin melangkah pergi tanpa menghiraukan Amel yang sekarang tengah menangis hebat, meratapi kelukaan hatinya akibat perbuatan pria yang ia cintai. Seolah membutakan hati serta perasaannya Hanbin berlalu tanpa menoleh kembali.

πŸ’¨πŸ’¨πŸ’¨πŸ’¨πŸ’¨πŸ’¨
Why loving you is so hurt boy, why this paint is so beautiful? Why you do like this?



πŸ’”πŸ’”πŸ’”πŸ’”πŸ’”

STAY







#Epilogue

*Marathon Chapter

~Dilemma~

…

…

…

…

…

Sudah dua bulan semenjak kejadian Hanbin marah sama Amel gara-gara dia gak mau diajak jalan tapi malah pergi kepuncak sama June, Hanbin tak pernah lagi mengabari Amel. Bahkan disekolah, Hanbin seolah menghindar ketika berjumpa dengan Amel. Bukan Amel tak pernah menjelaskan kepergiannya dengan June waktu itu, Amel sudah menjabarkannya secara detail dari pucuk sampai akar. Tapi tetap saja Hanbin seolah menutup telinga dan hatinya untuk mengerti, Amel sudah lelah untuk memahami Hanbin. Sedangkan Hanbin tak pernah belajar untuk memahami Amel, disini hanya Amel yang mencintai Hanbin. Sedangkan Hanbin tidak, bukan berarti yang sebenarnya. Ini hanya sebuah gambaran, dimana selama ini Amel selalu berusaha menjadi yang terbaik untuk Hanbin dan berubah dari Amel yang dulu nakal suka ugal-ugalan bersama Yoyo dan juga Jinan. Menjadi Amel yang selalu penurut terhadap apapun yang Hanbin katakan, tapi sayangnya. Usahanya untuk berubah itu hanya menghasilkan sebuah kekecewaan mendalam yang entah dia sendiri bisa menghapuskannya atau tidak.

Menyerah menghadapi ketidak pedulian Hanbin, atau bertahan mencintai Hanbin yang sama sekali tidak pernah serius menjalani hubungan mereka dengan berstatus ‘Pacar’. Sudah dua jam Amel berdiam memandang lautan lepas, angin sore semilir menerpa wajah cantik nan tipis itu. Sorot surya sudah berganti jingga, pertanda sebentar lagi senja telah tiba. Yoyo yang sedari tadi tengah asik bermain gaplek bersama Jinan lantas berjalan mendekati sahabatnya itu.

“Mau sampai kapan elo diem disitu kayak patung? Ngalangin pemandangan tau gak? Bagus body lo seksi? Badan tipis kayak triplek aja lo pamerin ke gue” ocehnya yang membuat Amel menatapnya tak suka.

Melihat Amel memberinya tatapan demikian, Yoyo menyengir sambil mengangkat dua jari membentuk huruf V ✌. Amel menghela nafas panjang, dadanya sesak seolah dijejal ribuan batu akibat merasakan sakit yang kekasihnya ukir dengan indah disana. Dia tak membalas apapun perkataan Yoyo barusan.

“Kenapa gak lo lepasin aja sih dia? June kan jauh lebih mengerti elo, perhatian juga sama elo. Kenapa elo lebih memilih bertahan dengan manusia purba cem Hanbin itu?” kali ini Jinan memberi suara.

“Apa yang dibilang Jinan itu bener Mel, mau sampai kapan elo bertahan buat mengerti dia, pahami dia, setia sama dia. Sedangkan dia peduli sedikit sama elo aja enggak? Enggak capek itu hati terus-terusan ngerasain sakit sama kecewa? Okelah,,,mungkin dulu,,,sekitar setaunan yang lalu. Gue sama Jinan mengakui kalo Hanbin itu cowok paling gentle karna dia begitu manis mencintai lo dengan keromantisannya. Tapi setelah itu? Kenapa mendadak dia berubah seolah dia abis kepentok terus jadi amnesia? Dia jadi dingin, cuek, bahkan lebih parahnya egois. Dia mau elo nuruti apapun kemauan dia, gak boleh ini-itu. Tapi dia peduli aja enggak? Kita bukan sakit hati karna dia ngelarang elo buat deket sama kita lagi enggak Mel? Kita cuma prihatin sama elo, sebagai sahabat. Kita tuh pengen elo bahagia dan ngedapetin yang terbaik, jadi tolong pikirkan baik-baik tentang hati lo sendiri” tambah Yoyo panjang lebar.

Amel masih terdiam, sungguh hatinya sekarang sudah tak berbentuk lagi. Perasaanya sudah tercampur seperti es teler. Bertahan? Atau menyerah melepaskan semua perjuangannya selama tiga tahun menjadi kekasih Hanbin?.

“Masuk yuk, matahari udah mau tenggelem tuh. Masuk angin lo ntar, kita juga yang repot kalo elo kenapa-kenapa” ajak Yoyo sambil merangkul pundak Amel.

Amel terkesiap dari lamunannya dan mengikuti langkah Yoyo dan juga Jinan disebelah kirinya. Akankah Amel segera menentukan kepastian hatinya?

—————–++—————–

Matahari pagi sudah menyapa, burung laut bernyanyi riang menyambut hangatnya mentari pagi. Yoyo sama Jinan udah siap dengan stelan jogging-nya. Yoyo tengah sibuk mengikat tali sepatunya sedangkan Jinan melakukan warming up, pria mungil itu tampak begitu manis dengan stelan baju warna hijau mudanya. Jadi Alien terus nyulik dia dosa gak sih?

Dari dalam muncul Amel yang masih amburadul baru bangun tidur, sambil menguap Amel menampakkan wujudnya. Yoyo yang duduk dekat pintu lantas menoleh dan menatap Amel dengan tatapan bertanya?

“Mau ikut Jogging gak?” tanya Yoyo.

“Gue belum mandi” jawab Amel.

“Kebanyakan nge-congek sih lo, makanya jadi gak bisa tidur kan semalem” celetuk Jinan yang masih asik pemanasan.

“Apaan sih? Kalian tuh yang berisik ribut main PS, kenapa jadi gue disalahin” protes Amel yang semalam tidurnya terganggu akibat jeritan Jinan dan juga Yoyo tanding PS.

“Ikutan kita jogging da, gak usah mandi gak papa. Toh gak ada yang bakal nyium lo kan? Sekalian cuci mata biar bening, sayangkan dapat voucer liburan gratis kalo gak dimanfaatin dengan baik. Lagian kita disini cuma seminggu eh, jangan di sia-siain” ajak Yoyo.

“Gue cuci muka dulu” jawab Amel kemudian.

“Sip” Yoyo memberi dua jempol.
Jadi,,,mereka dapet tiket liburan gratis dari Disney Game Online. Berkat Yoyo sama Jinan yang suka main game online itu, mereka memenangkan tiket liburan untuk 3 orang. Tau kalau Amel butuh hiburan, Yoyo sama Jinan ngajak dia pergi ke Pantai tempat liburan mereka. Tenang,,mereka gak ngapa-ngapain kok walaupun tinggal satu hotel. Karna kamar mereka misah, Amel dilantai 1, sedangkan Yoyo sama Jinan dilantai 2. Jadi aman dari area bahaya, jangan berpikiran yang bukan-bukan. Sahabat sejati gak doyan makan akar sendiri.

Limabelas menit kemudian Amel udah siap dengan pakaian joggingnya, rambut merahnya dikuncir atas, singlet abu-abu dengan hot pens warna hitam membuat gadis berusia 17 tahun itu tampak begitu sexy. Itu untuk sebagian kaum penyuka gadis mungil, bagi yang suka gadis bohay? Sayangnya Amel masih jauh dari kata ‘Bohay’. Mereka lantas bergegas mengelilingi kawasan pantai sambil berlari kecil, sambil olahraga sambil nyari gebetan. Kata Jinan sama Yoyo, maklum mereka jomblo berkepanjangan.

Ternyata banyak wisatawan asing ditempat ini, mayan bisa liat bule ya kan? Jinan sama Yoyo gak ada hentinya ngegodain cewek-cewek yang lagi pada jogging juga, sampai ada tukang jamu juga gak terlepas dari ke-ampasan mereka. Katanya ‘Ada jamu kuat jomblo gak mbok?’ atau ‘Ada jamu awet ganteng gak mbok?’ saking jengkelnya si mbok Jamu, mereka berdua dikasih gratis. Dan tau itu jamu apa? Rebusan pare, nikmatilah jamu kuat rasa le πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Sudah setengah jam mereka berputar-putar, akhirnya mereka berhenti disalah satu starbuck station, maklum lah tadi pagi gak sempet sarapan. Mereka memutuskan mengisi perut sebelum kembali ke hotel dan mandi, rencana hari ini adalah ke taman bermain yang gak jauh dari kawasan pantai.

“Makan apaan nih?” tanya Jinan sambil mengulak-alik buku menu.

Cheese cake” usul Amel.

“Setuju, minumnya hot choco” tambah Yoyo.

“Yaudah gue pesen dulu” Jinan-pun beranjak dari tempat duduk dan memesan sesuai pesanan. Sedangkan Amel sama Yoyo dengan setia duduk menanti.

“Mel” panggil Yoyo yang membuat Amel menoleh.

“Hemm”

“Pernah gak lo nanya ke Hanbin alasan dia berubah kayak gini?”

“Emang perlu ya Yo?”

“Kalo menurut gue sih iya, karna jujur. Gue tuh jengkel banget sama dia, kalo gue gak kasian sama elo, mungkin gue udah hajar dia sampai bonyok”

“Gue gak pernah kepikiran buat nanyain itu Yo, buat gue hubungan yang baik itu adalah hubungan yang bisa saling terbuka. Selama ini gue selalu terbuka sama dia”

“Dan dia? Pernah dia terbuka sama elo?”

Belum sampai Amel bercerita, Yoyo udah memotongnya. Bagaikan terkena skak mat, Amel cuma diam. Dia mencoba mengingat apakah Hanbin pernah terbuka dengannya atau hanya dia saja yang selama ini selalu menceritakan segala keluh kesahnya ke Hanbin? Suasana hening sesaat, karna setelahnya Jinan telah kembali membawa nampan berisi makanan.

“Yuhuuu makanan datang” serunya. Amel sama Yoyo segera membenarkan posisi dan mereka menyantap sarapan pagi mereka. Sebenernya udah masuk siang sih, waktu sudah menuju pukul 10.00. Mereka menikmati suasana pagi itu dengan ditemani round cheese cake dan juga hot choco.

Converse Hight pt.2









#Cemburu Menguras Tenaga#


πŸ‘‰Yuta View

Enggak kerasa udah empat bulan Yuta sama Rere magang di Auto Prob PTE.LTE hari-hari mereka lalui begitu saja, jadi tinggal dua bulan lagi mereka udah kembali disibukkan sama jadwal kuliah. Hari ini mereka tampak sibuk, karna kemarin Bu Irene. Staff HRD yang galaknya minta dikarungin itu bilang, kalau hari ini akan ada supervisor baru pangganti Bu Hyorin. Supervisor senior yang seminggu lalu cuti karna mau melahirkan, dan selama Bu Hyorin cuti. Bu Irene yang menggantikan untuk sementara waktu, Yuta sama Rere jadi gak bisa berkutik gara-gara Bu Irene galaknya amit-amit. Ada orang istirahat sebentar langsung di strap, untung gak lama. Cuma seminggu. Karna hari ini katanya akan ada supervisor baru pengganti bu Hyorin.
“Re”

“Hemm”

“Tebak-tebakan mau gak?”

“Apaan?”

“Menurut lo, supervisor kita nanti itu cowok apa cewek”

“Cowok”

“Kenapa cowok?”

“Karna gue bosen liat muka lo mulu Yut”

“Sialan lo, gaya pake bosen liat muka gue. Nih, lo dengerin ya..gak ada orang lain yang bisa nandingin ketampanan wajah gue ini oke”

“PD banget takoyaki”

“Jujur kok gue, daripada Jimin pacar lo itu, masih gantengan gue”

“Ampas”

“Hahahahaha”

Yuta tertawa lepas melihat wajah Rere yang berubah ekspresi, kebiasaan Yuta yang gak pernah berubah adalah dirinya yang selalu seneng ngegoda Rere ampe Rere kesel. Buat Yuta, tampang keselnya Rere itu adalah kecantikan Rere yang sebenernya. Yuta sering curi-curi pandang saat Rere marah atau kesel karna ulahnya, bahkan tanpa Rere ketahui. Di private galery ponsel Yuta, tersimpan ratusan poto Rere pas dia lagi ngambeg. Entah karna apapun itu.

Jam dinding menunjukkan pukul 10.25 waktu setempat, namun si supervisor pengganti ini belum juga menampakkan diri dikantor. Alhasil karna kerjaan gak ada yang ngawasin, Rere sama Yuta duel main games lagi.
Setengah jam kemudian seseorang tiba-tiba masuk keruangan mereka tanpa permisi, Yuta sama Rere jadi kaget karna kemunculan orang tersebut. Mereka menatap orang yang nyelonong seenaknya ini dengan tatapan bertanya, masalahnya orang ini mengenakan masker penutup mulut dan juga kacamata hitam. Jadi baik Rere maupun Yuta gak bisa liat muka orang ini,

“Maaf mas? Nyari siapa ya?” Selidik Yuta.

“Ruangan HRD sebelah mana mas?” Jawab orang tersebut.

“Lantai dua ruangan paling depan mas” petunjuk Yuta.

“Oh” dan tanpa permisi orang tersebut balik keluar lagi.

Yuta sama Rere jadi tercengang sama kelakuan orang aneh ini.

“Siapa sih?” Rere penasaran.

“Gojek kali?” Jawab Yuta sekenanya.

“Mau ngelamar kerja disini? Kok nyari HRD?”

“Tau? Mana dandanannya kayak teroris lagi?”

“Mungkin dia tonggos Yut, haha”

“Bisa jadi hahahaha”

Lagi asik mereka ngerumpi sambil ketawa-ketiwi ngomongin orang tadi, pintu ruangan mereka terbuka kembali. Kali ini menampilkan sosok bu Irene dengan balutan blazer hitam dan kemeja merah. Menambah hawa horor bu Irene semakin terpancar disana, Yuta sama Rere langsung kicep.
“Oohhh bagus ya, mentang-mentang hari ini saya gak ngawasin terus kalian kerjanya cuma haha-hehe aja hemm?” Ceplos bu Irene. Yuta sama Rere menunduk, tangan mereka saling senggol.

“Enggak papa, gak akan lama. Karena hari ini pengawas baru kalian sudah hadir” bu Irene mempersilahkan seseorang yang tengah berdiri dibelakangnya sekarang untuk menunjukkan diri.

Rere sama Yuta terkejut sama apa yang mereka lihat.

“Lah,,Yut,,bukannya itu orang tadi” bisik Rere.

“Iya” balas Yuta.

Orang yang dimaksud bu Irene pengawas baru mereka adalah orang yang beberapa menit lalu seenak jidat masuk ruangan mereka. Dan kali ini Rere sama Yuta dikejutkan lagi dengan tampang si makhluk aneh tadi. Orang itu membuka masker mulut serta kacamata hitamnya, daannn…?!?

😍😍😍😍😍😍 Ya Tuhan 😍😍😍 makhluk dari planet mana yang kau utus ke bumi buat jadi supervisor pengganti bu Hyorin ini 😍😍😍 ganteng 😍😍😍



Rere ternganga melihat wujud asli lelaki yang tadi mengenakan jaket hitam, kemeja kotak-kotak warna abu-abu sama kaos item juga didalam. Pake masker mulut sama kacamata item, udah kayak kang ojek online. Yuta-pun tak kalah terpana dengan sosok ini, tapi dengan cepat Yuta tersadar. Dia nyenggol lengan Rere,

“Kok kayaknya gue punya saingan” bisiknya. Rere gak ngejawab, dia masih setia dengan ekspresinya, mulutnya menganga dan matanya dari tadi tak berkedip menatap sesosok pria tampan yang saat ini tengah tersenyum.

Yuta menoleh kearah Rere dan menatap rekan kerjanya itu dengan tatapan tak suka,

Jangan bilang ini si Rere bakalan keganjenan sama supervisor ini? Sialan, kenapa tebakkannya bisa bener sih? Harusnya pengganti bu Hyorin cewek aja, misalnya yang kayak Dasom Sistar gitu biar gue bisa manas-manasin Rere. Lah kalo ini? Yang ada bakalan gue yang kebakaran kalo gini ceritanya.


“Kalian jangan seenaknya kalo kerja, karna supervisor baru kalian ini sangat disiplin dan selektif dalam bekerja. Kalo sampai kalian kerjanya gak bener, saya gak ngelarang dia buat ngasih kalian hukuman” tutur bu Irene dengan garangnya, seperti biasa.

Yuta terdiam, pandangannya masih sering tertuju ke Rere. Sedangkan Rere sekarang lagi salah tingkah gara-gara supervisor barunya daritadi gak berenti senyum kearahnya. Sepertinya Rere bakalan diabetes karena kebanyakan ngeliat senyuman manis si Mas Supervisor.

“Hemm,,,silahkan nikmati pekerjaan Anda, saya permisi” pamit Bu Irene pada supervisor baru. Pria itu mengangguk tanpa menghilangkan senyumannya. Bu Irene membalas senyuman itu sekilas, lantas menatap sinis Rere sama Yuta sebelum akhirnya berlalu pergi.

Seperginya bu Irene, supervisor baru itupun memperkenalkan dirinya.

“Hallo guys, seneng bisa ketemu kalian. Boleh kenalan kan?”

“Tak kenal maka tak sayang pak” celetuk Rere yang justru sukses ngebuat Yuta jadi gabut seketika.

Supervisor itu tersenyum (lagi) sebelum ia melanjutkan ucapannya, “Nama saya Hanbin Anugerah, kalian bisa manggil saya Hanbin. Saya masih 20 tahun, posisi saya sekarang Asisten Manager disini, sekalian pengawas kalian” jelas supervisor baru yang ternyata bernama Hanbin tersebut.

“Lah? 20 taun? Masih muda dong pak? Boleh panggil ‘Dedek’ gak sih pak?” Rere mulai ampas, Yuta mengepal tangannya kuat-kuat. Hatinya gatel-gatel ngeliat kelakuan Rere.

“Panggil Hanbin aja, mohon kerja samanya ya” suara serak-serak tipis itu membuat Rere jadi melayang keangkasa, ditambah senyuman manis Hanbin yang sedari tadi gak pernah lepas.

“Dengan senang hati pak” jawab Rere dengan gaya manjanya dibuat-buat. Dia gak sadar kalo ada orang disampingnya daritadi berusaha menahan diri buat enggak nge-jitak kepalanya gara-gara empet ngeliat keganjenan Rere.

“Yaudah ayo dilanjut kerjanya” tutup Hanbin.

“Ah,, iya pak ini saya ada yang mau saya tanyakan” dan lagi,,,?!? Sekarang Rere pura-pura nanya sesuatu hal yang itu terkesan sepele dan gak masuk akal.

Sepertinya hari ini akan jadi hari yang panjang buat Yuta, bersabarlah Yut, ini hanya sementara. Dua bulan itu gak lama kok, semua akan hilang setelahnya. Jadi jaga baik-baik emosinya, jangan sampai lepas πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚




Satu Minggu Kemudian






Dunia memang sempit, bahkan buat bernapas aja susah. Sesek banget rasanya dada, kayak ada sesuatu yang sengaja menghalangi disana. Mana ini hati rasanya panas kayak kebakar gitu lagi? Kayak gini dua bulan tuh sanggup gak sih? Bisa gak sih? Boleh gak itu supervisor dipecat aja?

Ini hanya berlaku untuk Yuta saja, genap satu minggu Hanbin menjadi supervisor mereka. Maka genap satu minggu juga Yuta mati-matian menahan cemburunya, entah mengapa Yuta bener-bener kesel tiap kali ngeliat Rere lagi berduaan sama Hanbin. Wajar sih, lah wong Rere-nya terlanjur keganjenan sama Pak Supervisornya. Ada aja gitu kelakuan dia buat gak deket sama Hanbin, hari ini contohnya.

Produksi robot lagi banyak, otomatis pemasangan dinamo sama control checking jadi banyak juga. Rere lagi asik dibantuin Hanbin masang dinamo serta ngecek robot-robot itu bisa bekerja atau tidak? Hal yang biasa Rere lakukan bersama Yuta tersebut, sekarang jadi serasa sebuah drama romantis yang membuat si penonton jadi jengah pengen nabokin si pemain.

“Itu salah, harusnya disebelah sini masangnya”

“Eh iya lupa Bin, maaf hehe”

Itu adalah sepenggal percakapan mereka yang udah ngebuat Yuta jadi gak napsu buat ngelanjutin pekerjaannya, merasa bener-bener gabut ngeliat pemandangan didepannya sekarang. Yuta akhirnya pergi meninggalkan ruangan tanpa sepengetahuan Rere maupun Hanbin. Mereka mah mana peduli, udah terlanjur asik, mau ada angin puting beliung juga bodo amat. Bahkan Rere aja lupa sama Jimin, sms yang Jimin kirim setengah jam yang lalu aja gak pernah dibaca sama Rere.

Yuta berjalan menuju pantry kebetulan disana ada mbak Susi, OG cantik yang baik hati tapi medoknya kentel banget. Kadang kalo Yuta diajak mbak Susi ngomong suka emosi sendiri karna Yuta gak gitu paham bahasa jawa. Yuta duduk dikursi pantry wajahnya daritadi ditekuk, mbak Susi yang melihat kedatangan Yuta lantas menghampirinya.

“Mas” sapanya. Yuta menatap mbak Susi.

“Kopi” tawarnya sambil mengacungkan teko kecil. Yuta tersenyum, kopi buatan mbak Susi adalah candu bagi Yuta. Mbak Susi kalo bikin kopi mantep banget kayak yang bikin, apalagi dasarnya Yuta emang suka ngopi. Kebanyakan anak Mapala lebih suka minum kopi ketimbang beer atau vodka.

“Boleh” jawab Yuta.

“Pake susu?”

“Susunya mbak Susi ya?”

“Kurang asem mas Yuta ki ” Yuta terkekeh, Yuta suka menggoda mbak Susi demikian karna jujur, mbak Susi ini gak layak jadi perempuan. Karna dia gak punya tonjolan didadanya, rata banget kayak jalan aspal. Mungkin karna mbak Susi keseringan ngelus dada kali ya?.

Dengan teliti perempuan berusia sekitar 30 tahunan itu, menuang kopi kesebuah cangkir tak lupa ia menambahkan gula dan juga creamer.

“Selamat menikmati” ucapnya sambil meletakkan cangkir kopi didepan Yuta.

“Makasih” balas Yuta.

“Mas”

“Iya”

“Mas Yuta lagi ndak seneng yo?

Yuta menelan kopinya sebelum menjawab pertanyaan mbak Susi.

“Mbak Susi keturunan ki Joko Bodo ya?”

“Ya bukan to mas, aku anak e saeman karo sanusi. Jenengku Susi. Aku udu anak e Joko Bodo”

“Mbak” Yuta memasang muka jengkelnya, mbak Susi malah menyengir.

“Bisa gak sih kalo ngomong jangan bahasa planet?” Kesal Yuta kemudian.

“Hehe maap mas, keceplosan” Yuta kembali menyeruput kopinya.

“Mas Yuta lagi berantem sama mbak Rere ya?”

“Kenapa mbak Susi keppo?”

“Lha soale beberapa hari ini tak perhatiin kok mas Yuta kayak e jarang sama mbak Rere, malahan kui,,,anu,,opo? Mbak Rere-nya sering nempel-nempel sama mas SariBin itu lho”

“Uhuk uhuk uhuk” Yuta keselek mendengar celotehannya mbak Susi barusan, mbak Susi jadi panik.

“Wallaahh mas,,,pelan-pelan to mas” mbak Susi nepuk-nepuk punggung Yuta.

Begitu keseleknya reda Yuta menatap mbak Susi, yang ditatap jadi gugup.

“Namanya Hanbin mbak, jangan seeenaknya ganti nama orang. Dia itu asisten Manager disini, nanti kalau dia denger mbak Susi manggil dia begitu, mbak Susi bisa dipecat” Yuta menakut-nakuti mbak Susi.

“Ya jangan to mas, mas Yuta kok malah doain saya dipecat pie to? Nanti yang buatin kopi siapa hayo?”

“Pak Uncuk lah” kata Yuta enteng.

“Uncuk kok disuruh bikin kopi, lah wong bikin teh aja pait” cela mbak Susi. Yuta tersenyum.
Disaat mereka masih asik ngobrol tiba-tiba datang Mawar, staff baru HRD. Dia celingak-celinguk seolah mencari sesuatu. Yuta sama mbak Susi saling pandang sebelum akhirnya mbak Susi menanyai Mawar.

“Mbak Mawar nyari opo?

Mawar menoleh kearah Mbak Susi dan juga Yuta sekarang.

“Nyari pak Uncuk mbak”

“Uncuk lagi potokopi keluar mbak, soale mesin potokopi kantor lagi rusak” jelas mbak Susi.

“Emang mau ngapain nyari pak Uncuk?” Kali ini Yuta.

“Galon diruang HRD abis, bantuin angkatin terus gantiin dong plis” pinta Mawar ke Yuta.

“Enggak mau ah, enak aja lo nyuruh gue angkat galon” tolak Yuta.

“Lah? Kenapa dah? Elo kan cowok? Di HRD lagi gak ada orang, tolongin bentar napa? Lagian elo kan lagi santai? Masa iya gue mau minta tolong mbak Susi?”

“Gue sibuk” jawab Yuta ketus.

Yowis kene mbak tak bantu saya saja, mas Yuta ne lagi ndak seneng” mbak Susi menawarkan diri.

“Dasar pemalas, katanya anak Mapala tuh rajin-rajin. Ini kok begini?” Cela Mawar terhadap Yuta.

“Jangan bawa-bawa pangkat dong” kesal Yuta kemudian.

Belum selesai mereka berdebat, muncul Hanbin sama Rere yang lagi asik ngobrol sambil ketawa-ketiwi. Seketika pandangan Yuta jadi teralih kesana.

Sialan, kenapa mereka malah kesini?

Lho? Yut, ternyata elo disini” sapa Rere begitu mendapati Yuta tengah menatapnya tajam. Yuta gak ngejawab Rere, dia menenggak habis kopinya.

“Heh,,sapi,,,gue nanya sama elo” kesal Rere, Yuta tetap gak ngegubris. Dia beranjak dari duduknya,

“War,,,katanya ruangan HRD keabisan galon ya? Sini biar gue yang ganti” Yuta mengalihkan pembicaraannya ke Mawar, Mawar yang tadi diam lantas terhenyak.

“Elo manggil gue apa?” Mawar justru malah bertanya.

“War, nama lo Mawar kan?” Jawab Yuta.

“Jelek banget sih Yut? Panggil lengkap gitu, Mawar atau Rose kek biar keren? War? Apaan?” Mawar cemberut.

“Enggak usah protes, buruan” Yuta udah siap dengan galon-nya. Mawar akhirnya mengikuti Yuta keruang HRD.

Rere mengerut tanda tak paham dengan sikap Yuta beberapa hari ini,

“Temen lo kenapa?” Tanya Hanbin.

“Enggak tau juga gue? Menstruasi kali?” Jawab Rere sekenanya.

“Haha,,,mana ada cowok menstruasi? Ngaco lo?”

“Buktinya? Gak jelas gitu? Udahlah biarin aja, gue haus nih. Mbak Susi” panggil Rere, Mbak Susi yang masih sibuk di Pantry menoleh.

Dalem mbak”

“Buatin es jeruk dua ya”

“Siap”

“Anterin keruangan jangan lupa, makasih” Rere tersenyum dan berlalu pergi. Hanbin ngintilin dibelakangnya.

Jam Pulang






Yut…” Seru Rere memanggil Yuta yang udah siap masuk mobilnya. Yuta menoleh,

“Tunggu Yut” seru Rere sekali lagi sambil berlari menuju Yuta. Yuta mengurungkan niatnya untuk masuk mobil dan menunggu Rere menyambangi dirinya. Ini ekspresi Yuta kayak tante-tante gak kebagian jatah, datar plus asem banget wajahnya.

“Yuta,,elo tuh kenapa sih?” Tanya Rere kemudian setelah kini dirinya berdiri dihadapan Yuta.

“Apanya yang kenapa?” Jawab Yuta malas.

“Ya elo kenapa? Kenapa elo cuek banget sama gue? Kenapa elo kayak ngehindar dari gue? Gue punya salah apa sih sama elo?” Cecar Rere, Yuta menghela nafas panjang. Dia menatap Rere lekat-lekat, gadis itupun sebaliknya.

“Gue gak kenapa-kenapa, dan gue gak pernah ngehindar dari elo” jawab Yuta kemudian.

“Enggak, gue gak percaya. Belakangan ini elo aneh Yut? Elo berubah semenjak adanya Hanbin, elo marah gue deket sama Hanbin?”

“Ngapain gue marah elo deket sama Hanbin? Jimin aja baik-baik aja kok elo deket sama dia atau sama siapapun? Kenapa gue harus marah?”

“Tapi sikap lo itu mengarah kesana Yut, okelah,,,Jimin emang baik-baik aja karna dia gak tau gue deket sama Hanbin. Tapi elo? Elo kan tiap hari ngeliat Yut?”

“Terus?”

Rere terdiam, enggak tau kenapa kali ini dia ngerasa tatapan Yuta seolah berkata kalau dia sangat benci membahas hal ini.

“Elo cemburu sama Hanbin?” Tanya Rere tiba-tiba.

“Enggak ada hak Re buat gue cemburu, gue tuh siapa? Gue cuma temen kan? Yang bisa lo butuhin kapanpun elo mau? Jadi gak pantes banget kalo gue musti cemburu”

“Tapi—”

“Udahlah, gue mau pulang. Tadi gue ada janji sama Jingga” tutup Yuta enggan melanjutkan pembicaraannya dengan Rere, ia pun akhirnya masuk kemobilnya dan berlalu pergi meninggalkan Rere yang sekarang terpaku dengan sejuta pertanyaan dibenaknya.

What happen with you boy?



Satu hal yang Rere gak pernah tau selama ini, arti dari perhatian Yuta. Hampir enam tahun Rere mengenal Yuta, namun dia gak pernah berhasil untuk memahami Yuta. Yuta terlalu misterius untuk ditelisik, cara dan sikapnya memperlakukan Rere selama ini memang masih bisa dibilang wajar. Karna memang sudah lama juga mereka kenal, tapi ‘isi hati’ Yuta siapa yang tau? Jangan lupakan tiga tahun lalu saat untuk pertama kalinya Yuta ngajak Rere jalan dihari minggu, semua hal yang mereka lalui dimasa itu sama sekali tidak pernah terlupakan oleh Yuta. Semua masih terkenang dan tersimpan manis dihatinya, tapi karna Yuta tak ingin merusak persahabatannya dengan Rere. Dia hanya bisa menyayangi Rere dengan caranya. Lantas apa arti kecemburuan Yuta kali ini? Apa benar Yuta telah jatuh cinta sama Rere? Atau hanya sebatas rasa cemburu antara ‘sahabat ke sahabat?’ Entahlah? Semua hanya Yuta yang tau.

Penasaran sama kelanjutannya?
Nantikan kisahnya dicerita selanjutnya πŸ˜‰

~To Be Continue~

Converse Hight pt.2


#Cemburu Menguras Tenaga#


=>Jimim View

.

.

.

.

.

.

Udah tiga hari ini Rere tiba-tiba gak bisa dihubungi, sms, chat, telfon gak pernah ada yang ia respon. Dan itu ngebuat hati seorang Park Jimin jadi gelisah, ada apakah gerangan dengan sang kekasih? Karena gak mau berprasangka buruk, akhirnya Jimin memutuskan untuk mencari tau. Apa sih yang gadisnya itu lakukan sampai-sampai tiga hari lost contack begini? Mumpung hari minggu, jadi sekalian mau ngajak jalan Rere buat nebus waktu dua minggu mereka yang gak pernah ketemu.

Selesai mandi dan sarapan, Jimin segera meluncur kerumah Rere. Satu jam perjalanan akhirnya Jimin sampai dirumah Rere, ia memarkirkan mobilnya tak jauh dari rumah sang pujaan hati. Begitu dirinya sampai didepan pagar rumah Rere, sempat ia berpikir kalau sepertinya Rere gak ada dirumah. Belum sempat Jimin memencet bel, pagar itu telah terbuka. Menampilkan sesosok perempuan cantik nan bahenol mengenakan hot pens dan juga kaos oblong warna putih yang tembus pandang. Jimin terhenyak ketika orang itu muncul, begitu juga orang tersebut.

“Jabang bayi, kaget aku mas” pekik orang tersebut. Jimin susah payah menelan ludahnya melihat penampilan orang ini.

“Nyariin mbak Rere ya” tanya orang tersebut kemudian. Ada sedikit jeda sebelum Jimin menjawab pertanyaan perempuan dihadapannya ini.

“I,,ii,,,iya mbak” jawab Jimin gugup.

“Waduh, sampean telat mas. Mbak Rere-nya udah pergi keluar dari setengah jam yang lalu e”

“Hah,,pergi? Pergi kemana mbak?”

“Ya saya ndak tau mas, mbak Rere-nya ndak bilang mau kemana?” Jimin terdiam, dia nampak mikir.

“Kayak e anu mas,,,mungkin mbak Rere kerumah mbak Jingga, soale tadi sebelum mbak Rere pergi. Dia sempat nelpon, terus tadi juga saya sempet denger mbak Rere nyebut nama ‘Ji’. Mungkin saja ‘Ji’ itu mbak Jingga, iya to? Gak mungkin kalau Wai Ji hehe” perempuan didepan Jimin ini malah ngelawak. Jimin mengernyit.

“Mbak”

Dalem mas

“Lawakan mbak Seulgi garing tau gak? Gak pantes jadi pelawak” cela Jimin terhadap pembantu part time yang sering Rere undang dihari minggu buat ngebersihin rumahnya tersebut. Seulastri Ginanjar atau yang akrab disapa Seulgi ini adalah janda RT seberang yang menyewakan dirinya sebagai pembantu panggilan atau Part Time Service. Rere sendiri udah lama berlangganan pembantu bahenol yang cantiknya ngalahin Kang Seulgi member Red Velvet tersebut. Seulgi cuma cengangas-cengenges dikatain sama Jimin.

“Yaudah kalo gitu makasih infonya” ucap Jimin.

Ndak ngopi ndisit mas?”

“Enggak usah kopi buatan mbak Seul pait” dan lagi Jimin mencela pembantu Rere ini.

Welah, jare sopo mas kopi gaweanku pait? Nek nginum nyambi nyawang aku tah mas, mengko lak manis

“Makin tambah pait mbak, udah ah. Jimin pergi dulu” Jimin pun meninggalkan Seulgi yang justru malah cengar-cengir gak jelas ngeliat Jimin kesel.

Jimin kembali ke mobilnya dan melaju meninggalkan rumah Rere.

“Seul,,,koe iki nyapo to malah pamer untu nang kono. Mbok kene aku direwangi iki angkat embere” teriak mang Sooman, tukang kebun rumah Rere.

Seulgi yang masih asik mengamati kepergian Jimin lantas menoleh, “Wong kok mben ketemu senenge ribut ae, sing ngongkon sopo mindahke banyu nganggo ember, sedot selang lak wis rampung mau. Wong tuek siji ki serik meni nek weruh wong seneng” gerutu Seulgi sembari menutup kembali pagar rumah Rere dan berjalan menghampiri mang Sooman.

————-

Jimin sudah sampai dirumah Jingga, dia memarkirkan mobilnya dipekarangan rumah Jingga, nampak sepi juga. Dengan langkah ragu-ragu setelah turun dari mobilnya, Jimin berjalan memasuki rumah Jingga. Belum sempat ia mengetuk pintu seseorang telah mengagetkannya,

“Mas Jimin”

Suara itu membuat Jimin tersentak kaget, dia-pun menoleh kearah sumber suara. Dan dirinya menemukan Yuna, pembantu rumah Jingga yang cantiknya ngalahin Kim Hyun-Ah 4Minute tersebut. Dan lagi, Jimin pagi-pagi disuguhi pemandangan yang membuat jantungnya berdegup gak karuan. Mbak Yuna, begitu sapaan pembantu tersebut mengenakan pakaian Jogging yang cukup ketat hingga bentuk lekuk tubuhnya begitu jelas tergambar, mati-matian Jimin berusaha menelan saliva-nya akibat matanya terbakar pemandangan semlohay-nya mbak Yuna.

“Mas,,,mas Jimin,,,mas” panggil Yuna sambil melambaikan tangannya didepan wajah Jimin. Masalahnya Jimin tengah kehilangan kesadarannya karna pagi ini dua kali dirinya dipertemukan dengan makhluk-makhluk laknat penggoda iman tersebut.

“Heehh,,,” Jimin terhenyak sadar. Yuna tersenyum.

“Nyari mbak Jingga ya? Apa nyari mbak Rere?” tanya Yuna kemudian.

“E..i….iya,,tadi Rere kesini ya?”

“Iya mas, tapi sayang. Mas Jimin terlambat, mereka udah pergi sejam yang lalu”

“Kemana?”

“Outbond mas, ada mas Jepang juga”

“Mas Jepang? Siapa mas Jepang?” tanya Jimin bingung.

“Lha itu mas Yuta, kan orang Jepang hehe” Yuna menyengir.

“Oh,,yaudah kalo gitu mbak, makasih infonya. Saya permisi dulu”

“Iya mas, tiati yo

Jimin tersenyum dan berlalu pergi.

πŸ‘‡πŸ‘‡πŸ‘‡πŸ‘‡πŸ‘‡πŸ‘‡

Sekarang Jimin udah sampai di outbond tempat biasanya Jingga sama Yuta bermain, jangan kaget kenapa Jimin bisa tau. Biasanya setiap hari minggu mereka selalu kesini ber-empat, kadang juga rame-rame bareng squad unyu-unyu yang lain. Masih inget kan sama Septi, Fiona, Seola dan juga Risa? Sekarang mereka sibuk magang masing-masing, malahan Risa magangnya diluar kota. Kalau tiga yang lain masih di-Ibukota, hanya saja untuk beberapa bulan kedepan mereka bakalan jarang ngumpul-ngumpul lagi. Kecuali empat makhluk ini, Rere, Jingga, Yuta dan juga Jimin.

Jimin mengambil kupon masuk dan bergegas menyusuri arena outbond untuk mencari dimana Rere dan juga yang lain. Masalahnya Jimin udah nyoba telfon Jingga ataupun Yuta, tapi gak ada yang angkat. Apalagi Rere, nomornya dari kemarin gak aktif terus. Jimin mengedarkan pandangannya kesegala arah, dan matanya menangkap sosok Jingga yang lagi persiapan rock climbing. Jimin tersenyum, lantas berjalan menghampiri Jingga.

“Jingga” sapa Jimin ketika dirinya sudah berada dibelakang gadis tersebut.

Jingga menoleh, merasa namanya terpanggil oleh suara yang tak asing dikupingnya.

“Jimin” balas Jingga. Jimin melambaikan tangannya.

“Kok elo bisa ada disini?” tanya Jingga kemudian.

“Panggilan alam Ji” Jimin menyengir.

“Lo kira kebelet eeg, segala panggilan alam” jawab Jingga sekenanya.

“Gue nyari Rere”

“Ciihh,,,bayi kali dia musti lo cariin. Noh pacar lo lagi selingkuh sama Yuta” Jingga nunjuk Rere yang sekarang lagi sama Yuta persiapan buat bermain Banci Jumping. Jimin melihat kearah kemana Jingga tunjuk, gak tau kenapa tiba-tiba ada sesuatu yang terasa sesek didadanya ketika melihat Yuta memeluk Rere dari belakang. Tanpa terasa tangan Jimin terkepal dengan sendirinya, dan lagi. Seorang Jingga menjadi kompor disini.

“Mau ikutan gue manjat dinding kagak?” tanya Jingga kemudian. Jimin menoleh.

“Boleh” jawab Jimin singkat.

Jingga-pun memasangkan safety belt kepinggang Jimin, tau apa yang Jimin lakukan saat ini? Matanya dari tadi terfokus pada dua sosok diseberang sana yang lagi asik peluk-pelukan. Ini bukan pelukan orang pacaran lho ya? Ini pelukan seorang instruktor terhadap peserta didiknya, Yuta lagi ngajarin Rere gimana posisi dia saat melakukan atraksi Banci Jumping dari ketinggian 200 meter tersebut. Ekspresi Jimin udah gak bisa digambarkan dengan kata-kata lagi, mukanya datar kayak bakpao dikempesin.

2 Jam Kemudian





Jimin udah gak bisa nahan emosinya lagi, sepanjang permainan dirinya disuguhi dengan pemandangan kekasihnya yang justru asik manja-manjaan sama pria lain. Dan sialnya Jimin harus kenal sama pria itu, entah disengaja atau memang Rere lagi khilaf. Sedari tadi dia ada aja alasannya buat gak nempel sama Yuta, contoh kecil : sendalnya lepas aja pake acara minta digendong sama Yuta. Gimana mas pacar gak kayak orang kebakaran jenggot, setengah mati Jimin menahan amarahnya buat enggak ngebogem wajah gantengnya Yuta didepan publik.

Saking panasnya hati Jimin melihat adegan Rere sama Yuta yang sekarang lagi main Flying Fox, dia yang ditugaskan Jingga buat ngambil gambar wahana outbond tersebut malah merusak kamera milik Jingga.

~kreetteekkk~

Bunyi lensa kamera Jingga yang udah lepas jadi tiga bagian dari tempatnya, saking kuatnya Jimin memutar lensa kamera tersebut. Dia gak sadar dengan apa yang udah dia lakukan, alhasil…..?!?

“Haaaaaahhhhh” Jingga yang melihat hal itu dengan sepenuh hati menganga, tanda tak percayanya dengan apa yang dilakukan Jimin.

“Jimin” teriak Jingga tepat disamping Jimin, Jimin pun mengalihkan pandangannya ke Jingga.

“Elo udah gila hah? Liat apa yang udah elo lakuin” histeris Jingga. Jimin melihat kearah tangannya.

Karena terkejut, dia malah ngebuang kamera beserta tiga keping serpihan lensa yang udah ia rusak tadi ketanah, dan itu sukses ngebuat tanduk Jingga keluar.

“Dasar Bantet sialan” geram Jingga. Tanpa aba-aba Jingga lantas menjambak rambut Jimin. Jimin pun mengerang kesakitan.

“Adudududududuuhh,,, sakit Ji, ampun” rengeknya.

“Enggak ada kata ampun buat elo bakpao kampret, elo gak tau apa itu lensa baru gue ganti kemarin? Dan elo gak mikir itu lensa harganya berapa hah? Lima Juta Paimin Lima Juta, elo dengan begitu gampang ngerusakin? Mati kau bantet” dengan beringas Jingga menjambak, menjewer serta mencakar Jimin. Jimin berteriak kesakitan tapi gak digubris sama Jingga, banyak bekas tanda merah diwajah gembul Park Jimin akibat dicakar sama dicubit oleh Jingga.

Kok gue malah sayang kameranya ya daripada Jimin-nya πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚







Malam Harinya





“Mau sampai kapan ngediamin aku terus?”

Rere gak ngejawab, dia malah asik sama PSP nya. Kesal sedari tadi pembicaraannya gak digubris sama Rere, Jimin menyita PSP Rere dan menatap kekasihnya itu tajam.

“Elo tuh kenapa sih?” pekik Rere.

“Elo yang kenapa?” nada bicara Jimin meninggi, dia yang tadinya bicara ‘aku-kamu’ sekarang jadi ‘elo-gue’ lagi gara-gara emosi.

“Kok elo ngebentak gue?” Jimin terdiam saat Rere bertanya demikian.

“Oohh,,,gue tau, mentang-mentang punya degeman diluar sana terus sekarang mau nyari masalah gitu?” selidik Rere, Jimin mengernyit.

“Degeman? Degeman apa?” Jimin enggak ngerti.

“Enggak usah pura-pura lupa, gue udah liat. Dia emang lebih cantik kok dari gue, jadi ya gue paham aja kenapa dua minggu gak ada kabar” ketus Rere dengan gamblang.

Jimin nampak berpikir, kemana dan siapa orang serta arah tujuan dari maksud ucapan Rere barusan.

“Jadi elo ceritanya hari ini balas dendam” jawab Jimin kemudian.

“Gue gak balas dendam, bukannya elo udah tau ya kalo gue sama Yuta emang udah deket dari dulu? Kalo elo sama cewek itu? Kapan deketnya? Kok gue gak pernah denger cerita elo tentang dia? Kenal dimana?” selidik Rere bertubi-tubi.

Butuh waktu untuk Jimin mencerna ucapan Rere, dan seketika memorinya terputar pada tiga hari yang lalu saat dia mengantar Jennie beli martabak. Jimin menatap Rere yang sekarang juga tengah menatapnya penuh intimidasi.

Tiba-tiba Jimin tersenyum dan mendekatkan wajahnya kewajah Rere, spontan Rere pun memundurkan kepalanya.

“Mau ngapain lo?” tanya Rere kemudian masih dengan ketusnya.

“Jadi,,,elo cemburu sama Jennie?” goda Jimin kemudian. Rere memalingkan wajahnya.

“Haha,,,enggak lucu sayang kalo kamu cemburu sama Jennie. Dia udah tunangan, setelah wisuda nanti dia mau nikah” jelas Jimin sambil cengar-cengir. Rere tampak mikir mendengar ucapan Jimin barusan.

“Seneng akutuh liat kamu cemburu gini? Tapi sayang, gara-gara ini aku patah hati” Jimin melas. Rere kembali menatap Jimin.

Ia melihat wajah Jimin yang ada bekas merah-merah disana, dengan mesra Rere menempelkan telapak tangannya ke pipi gembul Jimin.

“Enggak panas? Terus kenapa wajah kamu merah-merah?”

“Ini semua karna kamu”

“Kok gue?”

“Iya, gara-gara kamu keasikan gelayutan sama si Jepang, muka aku jadi kayak gini” Jimin cemberut, menampilkan muka bakpaonya itu sangat menggemaskan minta ditonjok.

“Lohh,,maksudnya?” Rere masih gak paham.

“Akutuh cemburu liat kamu mesra-mesraan sama Yuta, hati aku panas Yang, sakit” Jimin memegang dadanya.

“Terus apa hubungannya sama pipi kamu?”

“Gara-gara itu, gue gak sengaja ngerusakin lensa kamera Jingga”

“Apa? Elo gila ya? Itu lensa baru diganti kemarin, mana itu duit juga ngutang gue? Lima juta Yang lima juta” histeris Rere.

“Abis gimana gue terlanjur kesel”

“Haaiisshhhh benar-benar, terus gimana?”

“Enggak tau dia cuma nabokin gue ampe begini”

“Masih mending Jingga cuma nabok elo ampe kayak gitu”

“Kok kamu malah gitu?”

“Ya iyalah, belum tau Jingga kalau beneran marah kayak gimana? Dia bisa ngehajar orang sampai masuk rumah sakit tau”

Jimin mendelik, Rere menghela nafasnya. Jimin lantas memeluk pundak Rere dan menyandarkan kepalanya disana.

“Pipiku sakit Yang,,,obatin dong” manja Jimin.

“Enggak usah manja, gue masih kesel sama elo”

“Terus gak ada jatah?”

“Jatah apaan Paimin?”

“Kita kan udah dua minggu gak ketemu Yang, gak mesra-mesraan juga. Masa kamu gak kangen aku?”

“Enggak tuh”

“Yang”

“Apaan sih?”

“Jatah”

“Jatah-jatah, gue lagi M”

“Bohong,,,yang”

“Apaan sih bantet gak usah bikin gue merinding ya”

Bukannya berhenti, Jimin malah semakin menggoda Rere. Alhasil Rere kuwalahan sama sikap nakal kekasihnya yang entah sejak kapan jadi kayak gitu.

Malam ini pun menjadi malam indah bagi mereka setelah dua minggu gak ketemu, dan sempet berantem gara-gara cemburu. Cinta mengalahkan segalanya, begitu juga emosi. Rere maunya emosi, tapi sekarang jadi “Emosi” πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„

Converse Hight pt.2





#Cemburu Menguras Tenaga#

.

.

.

Epilogue Series // Random View

.

.

.

.

Rere View

.

.

.

.

Menjelang semester tua itu emang saat-saat paling memusingkan bagi mahasiswa, apalagi kalo ditambah ada jadwal magang segala? Kebayang gak gimana sibuknya? Itulah yang saat ini dirasakan oleh Rere saat ini, semenjak ia magang diperindustrian Auto Prob PTE.LTE dirinya selalu disibukkan sama yang namanya dinamo mesin penggerak robot canggih yang bisa menari. Tenang, Rere gak sendiri. Pernah denger kata-kata ‘Kalo jodoh gak akan kemana?’ Nah,,,itu berlaku buat Rere, apa dia magangnya sama Jimin? Menurut lo? Berharapnya gitu ya? Tapi sayangnya enggak tuh? Lah?

Rere magang bareng Yuta, surprise πŸ‘πŸ‘. Demi apapun Rere gak pernah nyangka kalo ternyata Yuta juga mahasiswa polytechnik. Setau Rere, Yuta itu sekampus sama Jingga dan satu UKM Mapala sama Jingga. Tapi sumpah Rere gak nyangka kalo ternyata Yuta ngambil fakultas polytechnik dikampusnya, soalnya Jingga juga gak pernah cerita soal ini.

Hari ini waktu masih menunjukkan pukul 11.00 waktu setempat, pagi menjelang siang iya kan? Tapi pekerjaan Rere sama Yuta udah selesai. Karena hari ini perakitan lagi gak banyak, disini Yuta sama Rere bagian checking sama uji coba. Kerjaannya main-main sama robot, gak jarang mereka malah asik main ketimbang kerja. Mau gimana lagi orang yang dikerjain juga malah asik joget, ya mereka ikutan jadinya.

Rere lagi asik didepan komputernya, sedangkan Yuta lagi asik main games. Melihat Yuta yang asik sama permainan dikomputer, Rere pun menghampiri Yuta.

“Game apaan tuh?” Tanya Rere sambil menatap layar komputer Yuta.

“Magic dance, mau duel gak sama gue? Yang kalah traktir makan siang” tantang Yuta.

“Cih,,,elo ngeremehin gue? Gini-gini gue mantan anggota SNSD tau” sombong Rere yang justru diketawain Yuta.

“Ngimpi lo jangan ketinggian napa Re? Ntar jatoh bokong lo makin abis” ledek Yuta sambil terkekeh.

“Ampas” decak Rere sambil menyeret kursinya kesamping Yuta.

“Berani duel gak?” Yuta memastikan sekali lagi.

“Siapa takut?” Rere menyombongkan diri.

Alhasil Rere mendownload game tersebut dan bermain tanding dengan Yuta.

Setengah Jam Kemudian





Yuta menatap sinis wajah Rere karna dari tadi Rere gak berenti ngetawain dia, tau apa yang terjadi? Sekarang wajah gantengnya Yuta dipenuhi sama lipstik, pernah denger sebutan Lipstik Prince ? Nah ini Yuta salah satunya. Wajahnya udah kayak tokoh Joker di kartu remi, Rere yang menjadi tersangka jadi berbahagia diatas penderitaan Yuta. Jadi tadi perjanjian diubah ketika sekali main Rere langsung menang, selain traktir makan siang. Yang kalah musti dicoret lipstik setiap naik level, dan selama setengah jam tadi Yuta kalah terus. Sekarang Rere di-level 30, sedangkan Yuta masih di-level 16. Dengan muka cemong dan ekspresi datarnya Yuta mendengus kesal.
“Hahahahahaha muka lo kayak muka cabe-cabean Yut, hahahaha” tawa Rere daritadi gak berenti.

“Bahagia lo kampret? Nyesel gue ngajakin elo tanding? Tau gini gue main sendiri aja tadi?” Sesal Yuta sambil ngelapin mukanya pake tiseu basah.

“Rasain, tadi elo ngeremehin gue sih? Elo tuh gak tau apa? Kalo gue ini generasi penerusnya Jessica SNSD? Makanya jangan suka ngeremehin gue” bangga Rere. Yuta memutar bola matanya jengah.

Alarm istirahat telah berdering, pertanda seluruh karyawan diperbolehkan untuk keluar makan siang. Sesuai perjanjian, Yuta harus mentraktir Rere.
“Asiikkk,,,waktunya makan gratis” cengiran lebar nan tanpa dosa itu mengembang begitu saja diwajah cantik gadis berusia 21 tahun tersebut. Yuta ngeberesin mejanya, “Mau makan apa lo?” Tanya-nya sambil sibuk merapihkan meja.

“Emm,,starbuck gimana?” Yuta tak menjawab, dia justru menatap Rere dari ujung kepala hingga ujung kaki. Sontak Rere jadi bingung plus salah tingkah dipandangi Yuta sedemikian rupa.

“Ke,,kenapa,,kenapa elo ngeliatin gue kayak gitu?” Tanya Rere gugup sambil menyelipkan rambutnya kebalik telinga.

“Mau seberapa besar lagi lo?” Pertanyaan Yuta ini sukses mengubah ekspresi Rere yang tadinya malu-malu ayam jadi beringas.

“Maksud pertanyaan lo apa?” Yuta mencium hawa-hawa horor disini, dia pun menyengir.

“Mau gue jujur apa bohong?”

“Jujur”

“Elo udah gendut Re, masa iya mau makan starbuck terus? Ntar kalo elo makin bulet, Jimin gak nafsu lagi Re. Dia bisa pindah kelain arah kalo ngeliat lo makin bantet kayak—aaaaaaa” Yuta menjerit karna perutnya sekarang lagi dicaplok kepiting raksasa.

“Kenapa elo selalu aja ngatain gue gendut? Gue gak gendut Takoyaki, gue cuma agak berbobot. Itu karna gue bahagia jadi pacar Jimin, enggak kayak elo yang kalo ngajak gue jalan pasti cuma nraktir nasi kucing sama nasi pecel” kesal Rere sambil menguatkan cubitannya.

“Ampuuunnn,,,sakit ya Tuhan,, Rere lepasiiinnn” pekik Yuta sambil mencubit pipi Rere, sekarang mereka jadi cubit-cubitan. Kayak lagu ya? Cubit cubitan ooiii,,,cubit cubitan πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Rere melepas cubitannya karna cubitan Yuta lumayan ngilu dipipinya, “Lepasin pipi gue oncom” kesal Rere. Yuta melepas cubitannya. Dia meringis sambil mengelus perutnya.

“Jahat lo Re, enggak tau apa kalo gue lagi mengandung?”

“Bodo amat, siapa suruh punya mulut lemes amat? Elo mengandung? Mengandung bangke kan lo?” Yuta tertawa terbahak-bahak dikatain mengandung bangke.

“Udah ah, buruan kita pergi makan. Gue laper nih” rengek Rere.

“Iya iya sayang” ledek Yuta. Yang justru diacungin kepalan tangan oleh Rere, Yuta-nya cengengesan aja.

Akhirnya mereka pergi meninggalkan ruangan dan mencari makan siang. Perusahaan ini gak punya kantin khusus btw.






#####






“Miiiiiiinnnnn”

Suara nyaring itu menggelora dilorong koridor SMA Nusantara, seorang gadis tengah mempercepat langkahnya ketika orang yang dipanggil menghentikan langkahnya dan menoleh kearahnya.

“Kebiasaan lo kalo manggil gue kayak gitu, gak enak didengernya tau gak?” Kesal orang yang dipanggil ‘Min’ oleh si gadis ini. Gadis itu terkekeh,

“Haha terus gue musti panggil elo apa? Nama lo kan Jimin? Yaudah gue panggil ‘Min'” tuturnya sambil tertawa.

“Panggil Jim kek, James kek atau Justin Bieber gitu?”

“Hah? Justin Bieber? Kok kejauhan ya sama realitanya hahahahaha” dan sekali lagi gadis itu menertawakan Jimin.

“Terserah lo lah Nie” jawab Jimin ketus, seketika tawa si gadis menghilang.

“Apa? Elo manggil gue apa?”

“Nie”

“Jelek banget”

“Enggak usah protes, nama gue Jimin elo panggil ‘Min’, nama lo Jennie jadi gue panggil ‘Nie'”

“Balas dendam lo ya?”

“Enggak”

“Ish nyebelin”

“Ada apa lo manggil gue?” Tanya Jimin kemudian menyudahi perdebatan nama mereka.

“Enngg,,,itu,,apa? Mengenai anak didik gue, gue kan janji sama mereka kalo satu kelas bisa ngedapetin nilai B untuk mata pelajaran yang gue bawain. Gue mau ngasih mereka hadiah, menurut lo apa hadiah yang cocok buat anak didik gue?” Jimin mengeryit mendengar pertanyaan Jennie barusan.

Jennie menunggu jawaban Jimin, jadi disini Jimin ditugaskan Magang disalah satu Sekolahan SMA favorite di-Ibukota. Dan kebetulan dia berpasangan dengan Jennie, teman sekelasnya dikampus. Jimin mengajar dikelas Ekonomi sedangkan Jennie mengajar dikelas Sosiologi, setiap hari mereka selalu disibukkan dengan anak didiknya yang mendadak jadi Fans mereka. Wajar sih ya? Anak murid mana sih yang gak bakalan jadi ganjen ketika punya guru muda ganteng sama cantik, udah gitu ramah dan baik hati. Udah pasti gak akan ada yang bisa menahan rasa ingin deket-deket sama guru mereka sendiri iya kan? Kesempatan emas loh ini, enam bulan disuguhi pemandangan indah begini.

Jimin masih sibuk mikir, karna bosan menunggu jawaban Jimin yang tak kunjung terucap. Jennie pun berdecak kesal.

“Ck, kok gue nyesel ya Jim nanya ke elo?” Ucapnya sambil melipat tangannya didada. Jimin menatap wajah Jennie yang kelihatan merengut.

“Gue gak tau” itu jawaban yang keluar dari mulut Jimin, Jennie mendengus.

“Yaudah lah lupain, ntar aja gue pikirin lagi” katanya. Jimin menggaruk tengkuknya yang gak gatel.

“Elo tadi bawa mobil gak?” Tanya Jennie kemudian.

“Bawa? Kenapa? Mau nebeng?” Interogasi Jimin.

“Hehe tau aja Paimin” Jennie menyengir.

“Udah hafal gue Jen, bukannya tiap hari kayak gitu ya? Elo punya tunangan orang kaya buat apaan? Pajangan?” Ledek Jimin. Lagi-lagi Jennie merengut.

“Mulut lo pedes Jim, kayak mulut cabe-cabean”

“Loh? Kok sewot? Gue nanya kali? Selama ini kan elo suka pamer ke gue soal tunangan lo yang katanya anak orang kaya itu kan? Tapi mana? Gue gak pernah liat dia ada jemput elo pake mobil? Yang ada selama dua bulan kita disini, elo pulang-pergi nebeng gue. Atau kalo enggak ya naik taksi, pacar mana pacar?”

“Dia sibuk kali sama kerjaannya”

“Sibuk sama selingkuhannya Jen, bukan pekerjaannya haha” Jimin berlari meninggalkan Jennie setelah berkata demikian, karena ekspresi Jennie udah berubah pengen nyakar orang ketika Jimin mengucapkan kalimat terakhirnya tadi.

“Baanntteeeettt elo kok ngeselin siiiihhh” geram Jennie yang udah gak didengar oleh Jimin.






******





Jam makan siang udah selesai, Rere sama Yuta udah balik keposisi semula. Mereka lagi mengutak-atik komputer masing-masing, entah darimana ketika mereka balik keruangan tiba-tiba dimeja mereka udah ada setumpuk map yang isinya data checking yang perlu direvisi ulang. Maka dari itu sebagai karyawan yang baik mereka mengerjakan tugas masing-masing.

“Yut”

“Hemm”

“Tadi pagi gue gak bawa mobil, terus gue sms Jimin gak dibales. Ntar kalo pulang gue nebeng elo ya”

“Oke”

“Ck, gue gak tau ini si Paimin sibuk apaan? Udah dua minggu dia kalo dihubungin susah”

“Kali aja jadwal ngajarnya lagi padat Re”

“Ya tapi kan seenggaknya luangin waktu gitu buat ngasih kabar ke gue? Sibuk ngajar kan kalo disekolah? Terus kalo pulang? Apa iya dia juga masih ngajar? Enggak kan?”

“Lah? Jadi kalo dia udah dirumah juga gak ada ngehubungin elo?”

Rere mengangguk, sekalipun Yuta gak ngeliat Rere sekarang. Tapi Yuta tau apa jawaban Rere.

“Jangan-jangan dia sibuk sama muridnya lagi Re?” Rere menatap tajam kearah Yuta. “Maksud lo apa?” Tanyanya memastikan.

“Helleh, pake sok-sokan nanya lagi lo? Cowok lo itu kan tampangnya tampang kampret berbau bangsat, siapa tau aja ada murid yang memikat matanya buat jelalatan. Kan mayan tuh dapet degeman dedek gemesh ” dengan wajah tak berdosanya Yuta mengatakan hal itu dengan gamblang.

Seketika perasaan Rere jadi gelap, kayak ada gumpalan awan hitam yang membawa halilintar menyambar-nyambar gitu rasanya mendengar ucapan Yuta barusan. Enggak pernah terpikir dibenak Rere akan hal itu, selama ini Rere ‘Oke-Oke’ aja sama apapun yang dilakuin sang kekasih. Karna prinsip Rere adalah ‘Hubungan harmonis itu kalo kita bisa saling percaya’ sedangkan selama ini Rere sama Jimin gak pernah ada masalah apa-apa. Selama menjalin hubungan 3 tahun pacaran, mereka baik-baik aja. Enggak ada masalah ataupun kendala, kecuali kalo Rere lagi Menstruasi. Itu baru masalah buat Jimin, karna Rere pasti bakalan jadi monster.

Rere meremas kertas yang ada didepannya, gak tau kenapa otaknya sekarang terkontaminasi sama ucapan Yuta. Bayangan Jimin lagi menye-menye sama dedek gemesh menyelinap dibenaknya, ini kalo elo naruh telur didepan idungnya Rere. Telurnya bakalan mateng seketika, Rere mendengus kesal. Sedangkan Yuta ampleng aja seolah dia gak punya dosa udah bikin anak perawan tetangga sekarang terbakar curiga.

———

“Jadi nebeng gak lo?”

“Jadi”

“Yaudah buruan”

“Tunggu”

Jennie pun membereskan mejanya, merapikan buku-buku yang tadi sempat berserakan. Setelah rapih dirinya membututi Jimin yang udah jalan duluan menuju parkiran.

“Jimin”

“Haahh,,”

“Sebelum pulang anterin gue beli martabak dulu ya!”

“Nyidam lo?”

“Tai mulut lo anjir, bukan elah. Adek gue dirumah tadi sms minta dibeliin martabak” kesal Jennie sambil memukul lengan Jimin.

“Haha biasa aja dong tante keselnya, pake bawa-bawa sodara segala” ledek Jimin.

“Tante-tante embahmu, ya iyalah emang bener adek gue yang minta martabak”

“Maksud gue bukan adek lo?”

“Terus siapa?”

“Yang lo ucapin di awal”

“…” Jennie nampak berpikir, Jimin cengangas-cengenges.

“Gak paham?” Jennie menggeleng, Jimin membuka ponselnya dan menunjukkan sebuah stiker bergambar πŸ’©. Jennie menggeram, Jimin terkekeh lantas masuk ke mobilnya.

“Emang tai lo bantet” umpat Jennie kesal.

******

“Ayoo dong Re, keluarin tenaga lo. Masa dorong gitu aja gak kuat sih?”

“Keparat, congor lo belum pernah gue jejelin sendal ya Yut, lo kira ini mobil, mobil mainan apa? Berat bego, kebanyakan dosa ni kayaknya”

“Alah bilang aja elo gak kuat ngedorong iyakan?”

“Nyesel gue nebeng elo babi, tau gini tadi gue naik taksi aja”

“Udah gak usah bawel buruan dorong mobil gue sebelum ditilang polisi gara-gara kita berenti ditengah jalan”

“Mati aja lo monyet jepang”

Yuta tertawa bahagia melihat penderitaan Rere dibelakang sana, sial beribu-ribu sial. Baru setengah perjalanan menuju pulang, tiba-tiba mobil Yuta mogok. Dan kampretnya dia nyuruh Rere ngedorong, sedangkan dirinya yang mengendalikan kemudi. Setengah mati Rere ngos-ngosan ngeluarin tenaganya buat ngedorong mobil Yuta, yang didepan kemudi sana lagi cengar-cengir melihat betapa susah payahnya gadis dibelakang sana. Yuta gak bisa nahan ketawanya melihat Rere yang udah mati-matian mendorong mobilnya, tau apa yang dilakuin Yuta? Dia gak ngenetralin gigi mobilnya, tapi justru malah di-oper 1. Mau sampai Rere kehabisan napas plus tenaganya juga itu mobil gak bakalan jalan.
“Jangan di rem setan” teriak Rere kesal, masalahnya dari tadi mobilnya gak gerak sama sekali.

Yuta menahan tawanya, “Enggak ada yang nge-rem elah. Elo-nya aja yang kebanyakan makan tapi gak punya tenaga?” Ledek Yuta dari depan.

“Sempak kudanil, gue bakar mobil lo tau rasa lo kutil badak” umpat Rere tak tertahankan.

Merasa usahanya sia-sia, Rere akhirnya jongkok dibelakang mobil Yuta. Yuta yang sedari tadi ngawasin dari spion jadi iba, dia pun keluar nyamperin Rere.

“Enggak papa lo?”

“Enggak papa, enggak papa dengkulmu. Elo gak liat gue engap hampir mati gini lo tanya gak papa, mata lo minta gue colok ya?” Yuta terkekeh dimaki-maki Rere.

“Maaf sayang” ledek Yuta lagi sambil ngasih sebotol air mineral.

Rere menerima air tersebut sambil memalingkan wajahnya, empet rasanya Rere ngeliat cengiran ngeselinnya Yuta itu. Gak pake babibu Rere menenggak habis air tersebut, disaat dia melempar pandangannya kesegala arah. Matanya menangkap pemandangan yang membuat jantungnya terpacu, Rere memicingkan matanya memastikan dengan apa yang ia lihat dari jarak jauh ini. Enggak tau kenapa hawa panas membakar seluruh tenaganya, Rere meremas botol air mineral itu. Yuta ngeliatin Rere heran.

“Kenapa lo?” Tanya Yuta, Rere gak ngejawab. Dia beranjak berdiri dan mendengus berkali-kali.

“Buruan masuk mobil lo sekarang” perintah Rere kemudian.

“Lah kan bel–”

“Buruan atau gue tonjok lo” Yuta bergidik, tiba-tiba Rere jadi beringas. Yuta-pun akhirnya masuk kemobilnya dan melepas hand rem baru saja hand rem itu kembali keposisi. Mobil Yuta udah bergerak, Rere ngedorong mobil Yuta lagi. Kali ini dengan kekuatan super power. Tau kenapa? Rere emosi dengan apa yang dilihatnya tadi.
Bersiaplah untuk mati Park Jimin.





######

Tanpa Rere sadari ia telah mendorong mobil Yuta sejauh satu kilo, dari tadi Yuta triak-triak stop dari depan sana tapi gak digubris sama Rere. Karena kasian sama gadis itu, Yuta mengerem mobilnya mendadak. Takut Rere kepentok mobilnya, Yuta turun untuk memastikan. Disaat Yuta baru menjulurkan kepalanya keluar pintu mobil dan menoleh kebelakang, dia agak terkejut karna Rere tak nampak disana. Segera Yuta mengitari mobilnya, dan dia terkejut untuk yang kedua kalinya saat mendapati Rere udah terkapar dibelakang mobilnya.


“Rere” seru Yuta sambil berjongkok disisi Rere.

“Yut” panggil Rere hampir tak terdengar.

“Hah, Re,,,elo gak papa kan?”

“Enggak papa jidat lo lebar, gue hampir mati lo kata gak papa” jawab Rere sambil terengah-engah.

“Ya abis elo kenapa dah, baru gue kasih aqua 500ml aja tenaga lo udah kayak super hero. Tau gitu tadi gue kasih yang 1L biar elo bisa ngedorong mobil gue nyampe rumah hahahaha” bukannya kasian sama keadaan Rere sekarang. Yuta malah tertawa bahagia melihat Rere yang udah basah keringet ditambah bentukannya udah kayak bakwan kesiram es. Lembek, pucet, amburadul lah pokoknya.

“Emang tai ya lo takoyaki” kesal Rere karna diketawain Yuta.

“Udah ah yokk” Yuta membantu Rere bangun.

“Yut”

“Hemm”

“Kayaknya malaikat pencabut nyawa udah ngehampirin gue Yut”

“Sialan lo, ngatain gue malaikat pencabut nyawa”


~plaakkkk~



“Aduh”

“Gue gak ngatain elo monyet, gue serius”

“Gak usah ngaco, buruan berdiri” Yuta narik lengan Rere untuk berdiri, ini Rere posisinya udah duduk. Disaat Rere mencoba berdiri,


“Gue mati dulu ya Yut”

“Lah,,,Re,,,Rere,,,Re”


Rerenya pingsan sodara-sodara. πŸ˜ͺπŸ˜ͺπŸ˜ͺπŸ˜ͺ

Coklat Kacang [[3pil0u93]]


Hallo πŸ‘‹ daqu kembali dengan Coklat Kacang πŸ˜‚ kali ini edisi Epilogue

Gue kangen June btw haha

Enjoy my story πŸ˜™

.

.

.

.

.

.

———-

.

.

#Salah Orang#

.

.

.

.

****-****





Enggak kerasa udah satu tahun berjalan hubungan Jeoni dan juga Elly, hari-hari mereka dilalui begitu saja. Saling support dan saling mengisi satu sama lain, tapi jangan anggap cuek dan juteknya Jeoni ke Elly udah luntur ya? Sekalipun sekarang statusnya udah ‘Pacar’ tapi yang namanya watak itu gak bisa dirubah. Jeoni kembali ke tabiatnya yang dulu, cuek dan acuh tak acuh. Kadang-kadang Elly pengen gitu nukerin Jeoni sama undian berhadiah yang ada di chiki-chiki karna saking jengkelnya.

Dulu,,,setelah jadian sampai dua bulan kemudian Jeoni tuh manis banget, bangetnya pake sekali dikalikan sangat. Sakarin aja kalah, apalagi coklat kacang? Bueh kelewat kalah manis sama sikap Jeoni waktu itu, wajar sih? Waktu itu kan dia lagi merasa bersalah dan mencoba mencari perhatian Elly, giliran udah berjalan tiga, empat, lima, enam dan seterusnya. Kelakuan ngeselinnya Jeoni itu balik lagi, Elly sempet kaget dan hampir beranggapan kalo Jeoni kena sawan.

Tapi disini Elly enggak idiot, jadi dia kembali sadar. Kalo itu emang sifat aslinya Jeoni sejak pertama kali Elly mengenal Jeoni. Jadi ya, Elly coba ngerti. Walau keseringan dia musti ngelus dada setiap saat kalo pria tampan bergigi kelinci itu tengah menguji kesabarannya. Ingat El, gimana perjuangan lo ngedapetin makhluk luar angkasa itu. Jadi senyebelin apapun dia, bertahanlah. Ntar kalo kesamber petir juga dia sadar, hahaha πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚.

Tadi pagi, Jeoni mengirim pesan ke Elly. Malam ini dia pengen ngajak Elly candle light dinner kalo bahasa gaulnya is death, lah? Mati dong 😰 haha maksudnya nge-date. Buat ngerayain 1st Anniversary mereka kata Jeoni. Haduh kok romantis sih 😍

Elly tengah berada disalon, hallo jangan salah ya. Sekarang Elly udah gak pake kacamata bulat lagi, gara-gara kacamatanya jatuh terus kelindes motor. Elly harus melepas kacamatanya itu, awalnya Elly pengen beli yang baru. Tapi, Jeoni bilang ‘Elly lebih cantik kalo tanpa kacamata’ so dia ikutin apa kata mas pacar. Nyenengin hati pacar itu gampang kok, cukup ikutin apa kata dan mau dia asal itu baik, bener, positif. Jadi, Elly adalah salah satu orang yang masuk kategori itu. Dia selalu mengikuti apapun yang Jeoni katakan dan yang Jeoni mau. Asal itu baik dan bisa bikin Jeoni seneng pastinya.

Udah hampir dua jam Elly nyalon, ditemenin sama Jisoo. Temen kuliahnya yang berisiknya minta dikarungin. Sepanjang Elly di facial, rebonding sama make-up tattoo. Jisoo nyerocos aja sampe kuping Elly penuh sama celotehan Jisoo, karena saking gedegnya Elly nyuruh Jisoo buat ngitung rambutnya Elly yang rontok. Dan tau apa? Jisoo manut ae, kasian? Enggak usah, karna hanya itu cara ampuh untuk menghentikan celotehan Jisoo yang gak jauh-jauh dari Kak Chanwoo. Sepupu Elly.

“Ada berapa banyak Ji rambut gue yang rontok?” Tanya Elly ketika mendapati Jisoo tengah menggaruk-garuk kepalanya sambil komat-kamit.

“Eenngggg,,,,enam puluh enam apa enam puluh delapan ya tadi?” Jawab Jisoo sambil berpikir.
Harap diketahui, Jisoo ini selain bawel dia juga agak telmi alias telat mikir. Dia ngitung yakan? Terus elo ajak bicara, seketika dia lupa nyampe berapa tadi dia ngitung? Tapi ajaibnya, dia naik semester. Jisoo ini satu tahun lebih tua dari Elly, dia masuk kuliah bareng Elly. Karena waktu SMA dia sempet mengulang, mungkin karna penyakit telmi-nya itu kali ya? Jadi dia sekarang seangkatan sama Elly, jangan salah. Jisoo pinter bahasa Perancis sama Jepang, kalo ada kegiatan Wiyata Mandala dikampusnya. Jisoo yang ditunjuk sebagai Tour Guide nya, keren kan? πŸ‘πŸ‘

Elly tersenyum ketika melihat ekspresi bingung Jisoo, kebetulan dirinya juga udah selesai didandani. Elly lantas merapihkan dirinya didepan cermin. Tau temennya itu masih asik mikir, Elly pun bergegas mendekati Jisoo yang duduk disofa ruangan salon tersebut.

“Udah gak usah dipikirin, balik yuk. Gue laper, tadi kan kita belum makan siang” ucap Elly sembari mengambil tasnya disisi kiri Jisoo. Jisoo mencebikkan bibirnya,

“Ck, kenapa sih gue selalu gak pernah berhasil mengingat” gerutunya kesal.

“Kebanyakan ngelupain sih lo, makanya jadi kebablasan” ledek Elly sambil terkekeh. Jisoo menyengir,

“Iya kali ya El, hehe” jawab Jisoo dengan cengirannya.

“Udah ah yukk, cacing gue udah demo nih”

“Elo udah selesai emang?”

“Hallo Jisoo-ku yang cantik, kalo belum selesai ngapain gue ngajak elo balik?”

“Hehe,,iya ya..yaudah ayook” Jisoo menggandeng lengan Elly. Kedua gadis itu lantas berlalu pergi meninggalkan salon dan berpindah kesalah satu restoran favorit mereka.
*****
“Ntar malem gue gak bisa”

“Emang elo mau ngapain?”

“Gue ada janji sama Elly”

“Cie cie,,,yang pacarannya lancar kayak kencing perawan”

~pletakk~

“Aduuuhhhh,,,kok dedek dijitak sih?”

“Dedek, dedek, dedek sunandar lo?”

“Bajigur,,,ganteng kayak Rionaldo De Caprio dikatain Dede Sunandar, pake kaca pembesar dong kalo liat gue”

“Rionaldo De Caprio dari Zimbabwe? Muka kayak Caplang aja ngaku-ngaku mirip Rionaldo”

“Sirik aja lo tapir”

“Minggat atau gue tendang ampe lantai bawah lo”

“Njiirrr,,,bekantan rusia ngamuk. Gue kan becanda Jeon?”

Jeoni memalingkan wajahnya, kebiasaan dua makhluk ini kalo ngumpul yang dibahas enggak lain enggak bukan adalah jenis-jenis hewan. Tadi niatnya June mau ngajakin Jeoni tanding main PS seperti biasa, tapi karna Jeoni udah ada janji sama Elly. Jadi dia bilang gak bisa, namun,,,ya begitulah. Pembicaraan mereka berakhir di kebun binatang, saat ini mereka lagi ada si pusat Industri perakitan robot canggih yang bisa mengerjakan pekerjaan rumah layaknya pembantu rumah tangga. Udah dua minggu mereka magang disini, hari-hari keduanya ya kayak gitu.

Penuh sama hewan-hewan, dan jangan lupa betapa ampasnya June yang suka seenaknya ngatain orang. Ada aja gitu yang dibahas, enggak itu tentang masing-masing ataupun orang lain. Bahkan karyawan tetap perusahaan itu juga jadi salah satu bahan omongan enggak bergunanya June. Orang ganteng mah bebas ya kan June?.

Tanpa mereka sadari, jam dinding telah menunjukkan pukul lima sore. Alarm perusahaan juga udah berdering, seluruh karyawan menghentikan aktifitasnya. Begitu juga dengan Jeoni dan juga June, disini Jeoni yang kelihatan sumringah. Wajar sih? Mau ketemuan kok ya Jeon? Setelah selesai memberesi pekerjaan mereka dan juga mematikan seluruh mesin penggerak, Jeoni sama June jalan beriringan menuju loker. Seluruh karyawan perusahaan sudah memenuhi barisan loker disana, Jeoni sama June terpaksa harus antri.

“Kirain cuma BBM yang harus antri? Mau ngambil tas diloker juga musti ngantri? Mana tiap hari lagi? Haih,,” gerutu June, Jeoni memperhatikan sahabatnya itu.

“June” panggil Jeoni kemudian.

“Hemm” jawab June singkat sambil membalas tatapan Jeoni.

“Bisa gak, sekali aja elo itu gak usah protes? Gue rasa elo itu salah ngambil jurusan tau gak lo?” Jeoni menggantung kalimatnya, June mengernyit. “Harusnya dulu elo ngambil kuliah jurusan Hukum, biar elo bisa jadi Pengacara atau Hakim gitu? Kan cocok tuh sama kebiasaan lo yang suka komplen. Ini begini dikomplen, itu begitu dikomplen. Sampai-sampai kang bakso didepan juga kena komplenan lo tau gak?” Kesal Jeoni panjang lebar.

“Lah? Kok nyalahin gue? Salahin kang baksonya dong, katanya bakso murah meriah. Ya gue makan tiga mangkok, ujung-ujungnya sama aja gue musti bayar 60 ribu tiga mangkok. Murah dari mana coba?” Balas June tak mau kalah.

“Ck, emang susah ya ngomong sama elo” decak Jeoni. June tak mengindahkan perkataan Jeoni.
Tiba giliran mereka buat ngambil tas diloker masing-masing. Begitu udah selesai mereka lantas bergegas pulang, seperti biasa June nebeng sama Jeoni. Entahlah? June itu anak orang kaya yang menyedihkan kalo menurut gue, dia punya segalanya tapi hidupnya selalu bergantung pada orang lain. Entah ini salah orang tuanya atau emang June-nya yang terlanjur jadi parasit. Kalo kata Seulgi guru Biologi Jeoni sama June waktu SMA, June itu ibarat Simbiosis Parasitisme. Suka menempel tapi merugikan.

#####

Malam telah tiba, Elly sudah dandan cantik. Jam beker dinakas tempat tidurnya menunjukkan pukul 19.00 waktu setempat. Elly terlihat cantik dengan Dress warna Peach dan bando pita dikepalanya, dandanan kasual yang sangat digemari Jeoni dari sosok Elly. Mata coklatnya semakin nampak coklat dengan Contack Lens yang ia kenakan, udah dibilang kan kalo Elly sekarang gak pake kacamata? Jadi dia pake kontak lens, karna kalo gak pake itu. Elly gak bisa ngeliat jauh, minusnya semakin bertambah ketika kuliah ini. Maklumlah, jadwal kuliahnya jauh lebih padat ketimbang jadwal sekolahnya dulu.

Masih asik dengan sisiran rambutnya, ponselnya bergetar menandakan sebuah pesan masuk. Ia pun meraih ponsel yang ia letakkan gak jauh darinya, ketika dibuka ternyata itu dari Jeoni.

Gue udah ada direstoran tempat kita janjian tadi pagi, sorry gue gak bisa jemput. Soalnya tadi sekalian anterin mama kerumah kak Juwi

Elly memasukkan ponselnya kedalam tas slempangnya, tau kalo Jeoni udah ditempat. Udah pasti Elly gak mau bikin Jeoni nunggu lama, ia pun segera bergegas menuju ketempat tujuan.

******

“Mana cewek lo?”

“Diperjalanan kali? Gue sms gak dibales?”

“Sumpah gue penasaran, kayak apa sih dia? Kok bisa-bisanya dia memikat hati seorang Jeoni Aprilio dengan begitu mudahnya. Bahkan sampe gak mau ngelirik cewek lain, padahal supervisor perusahaan itu cantiknya ngalahin Mbak Hyuna 4Minute loh”

“Ampas, udah deh. Gak usah bikin mood gue ancur sama omongan gak berguna lo itu. Nyesel gue ngijinin elo duduk disini”

“Hehe”

June memberikan cengiran lebarnya seolah dia gak pernah berdosa, jangan salah paham. Ini hanya kesalahan teknis. Tadi, Jeoni emang nganterin Mama-nya kerumah Juwita. Dan sialnya pas dijalan menuju kembali, Jeoni harus dipertemukan dengan June yang juga lagi ada janji sama adik tingkat dikampusnya. Direstoran yang sama, dia jalan kaki gak bawa mobil. Katanya mobilnya lagi dibengkel, nunggu taksi kelamaan. Akhirnya dia jalan kaki, sebagai manusia yang berhati malaikat, Jeoni ngasih tumpangan ke June. Lagi pula mereka satu tujuan kan? Jadi ya, ini entah kebetulan atau kesialan?.

Setelah tiga puluh menit menunggu tapi Elly-nya belum muncul juga, Joeni pamitan sama June buat ke toilet. Lagian ini adik tingkat yang janjian sama June juga belum dateng. Jadi mereka berdua masih sama-sama menanti, June meng-iyakan Jeoni ketoilet, dan dirinya menunggu dimeja yang udah dibooking Jeoni tersebut. Lima menit setelah kepergian Jeoni, akhirnya gadis cantik itu menampakkan batang hidungnya. Elly berjalan memasuki restoran sambil celingak-celinguk mencari meja yang dipesan Jeoni, tak lama kemudian matanya menangkap meja no.97 seperti yang Jeoni beritahukan kepadanya.

Elly tersenyum sumringah saat melihatnya, lagi pula dia juga melihat seseorang tengah duduk disana. Jadi dengan perasaan yang berbunga-bunga dan detak jantungnya yang emggak karu-karuan. Elly berjalan perlahan mendekati orang tersebut, semakin dekat. Dan,,,!!!!

~taapppp~

Dengan tanpa berpikir panjang ataupun curiga, Elly lantas memeluk orang yang duduk dimeja 97 itu dari belakang dan juga menutup mata orang tersebut. Sialnya orang ini diam saja, jadi Elly cuma bisa senyum-senyum gak jelas saking senengnya. Harap dimengerti, udah dua minggu mereka gak ketemu. Paling cuma sms, chat atau telfon. Itu juga kadang gak kejawab karna kesibukan masing-masing. Jadi wajar kan kalo kangen?

“Siapa nih?” Tanya si orang ini kemudian.

“Siapa ya?” Goda Elly sambil terkekeh, sumpah ini Elly enggak ngeliat wajah orang ini. Kepalanya menghadap kearah berlawanan dari orang ini, jadi sangat tidak mungkin kalo dia bakal tau siapa orang yang udah dia perlakukan seperti ini.

“Enggak usah bercanda deh?”

“Tebak aja kalo bisa? Masa kamu gak ngenalin aku?” Dan masih dengan kekehanya, Elly masih setia menutup mata dan memeluk orang ini.

“Enggak usah main-main ya, gue cium ampe lemes juga nih” ancam June.
Belum sempat Elly melepas dirinya dari tubuh orang ini, dia udah dikagetkan dengan sebuah suara yang sangat ia kenal.

“Elly”

Mendengar namanya dipanggil namun bukan dari orang yang ia peluk sedari tadi ini, Elly-pun menoleh dan memperhatikan sesosok pria yang berdiri dihadapannya sekarang.

“Je,,jjeo,,jeoni” Elly tergagap sampai terperangah, sontak ia lalu melempar pandangannya ke pria yang masih ia tutupin matanya pake tangan kirinya tersebut.

“Hah,,,!!!” Alangkah terkejutnya Elly saat melihat wajah pria tersebut, seketika wajah cantiknya memerah. Pipinya serasa memanas, saking terkejutnya ia sampai melangkah mundur hingga menabrak kursi dibelakangnya. Beruntung Jeoni menahannya, jika tidak sudah sangat bisa dipastikan kalau dia bakalan ngejengkang.

June, pria itu melongo melihat sosok Elly yang sekarang tengah dipeluk Jeoni.

Demi sempak anoa ini cewek cantik bener 😍 jadi ini yang namanya Elly? Gila, pantes aja Jeoni ampe gak mau ngelirik cewek lain. Orang ceweknya kinclong begini kayak Dasom Sistar, kenapa kau mempertemukanku dengannya ketika dia sudah milik orang lain ya Allah 😭

Sambil terperangah batin June meratapi nasibnya, sedangkan Jeoni cengar-cengir melihat ekspresi malu kekasihnya. Elly tengah mati-matian menutupi rasa malunya akibat kecerobohannya barusan.

“Tadi naik apa kesini?” Tanya Jeoni mencoba mencairkan suasana.

“Taksi” jawab Elly sedikit malu. June masih menatapnya sedari tadi.

“Oh iya, nih kenalin. June Pratama, panggil aja June, dia temen sekampus, sekelas juga sebangku. June ini Elly, pacar gue. Elly, ini June sahabag gue” perkenalan Jeoni terhadap Elly dan juga June.

Elly menganggukkan kepalanya memberi salam pada June, June-nya malah garuk-garuk tengkuk seakan salah tingkah. Ya gimana gak salah tingkah kalau ngalamin kejadian kayak tadi? Suasana jadi Awkward beberapa saat sebelum akhirnya sebuah seruan menyadarkan June dari pikirannya.

“Kak June”

Suara nyaring seorang gadis menggema didalam restoran itu, June yang dari tadi salah tingkah lantas menoleh kearah sumber suara. Gadis itu melambaikan tangannya, June tersenyum ceria. Karena yang ia nanti sudah datang.

“Itu yang namanya Mawar?” Tanya Jeoni memastikan. June mengangguk, “cantik juga, pipinya chubby kayak bakpao” ledek Jeoni yang membuag dirinya ditatap tajam oleh June. Jeoni terkekeh.

“Enggak usah ngeledek, mentang-mentang punya lo HQ terus lo mau nyela degeman gue? Temen kampret lo” kesal June.

“Udah sana samperin, jangan gangguin gue lagi. Gue mau mesra-mesraan” sombong Jeoni sembari memeluk Elly. Sedangkan Elly masih terdiam sedari tadi, jujur dia gak tau mau ditaruh dimana wajahnya karna kejadian tadi.

“Makan tuh mesra” umpat June sambil ngelempar tissue. Jeoni menyengir.

June-pun meninggalkan meja Jeoni dan menghampiri gadis yang bernama Mawar ini. Jeoni kemudian menatap Elly yang masih terdiam.

“Kenapa?” Tanyanya, Elly menatap Jeoni.

“Salah orang ya tadi? Gue gak liat kok, yang gue liat cuma elo lagi meluk June haha” ledek Jeoni sambil tertawa geli melihat wajah Elly yang masih memerah. Paham kalau gadisnya ini malu Jeoni lantas mempersilahkan Elly duduk dan memesan makanan.

Jadi disini, kado 1st Anniversary mereka adalah kecerobohan Elly yang seenaknya meluk-meluk tapi dia salah orang. Dan semenjak kejadian itu setiap ketemu June, Elly jadi salah tingkah. Dan itu justru jadi bahan candaan Jeoni untuk menggoda Elly ketika mereka lagi berdua.

Sial emang?.

~FIN~






Yeeeeyyyy selesai πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„

Hehe sampai disini dulu ya ceritanya, sampai jumpa di cerita selanjutnya πŸ‘‹πŸ‘‹πŸ‘‹ bye bye πŸ˜™πŸ˜™

Voment Jusseyo πŸ˜ŠπŸ˜‰

Stay

Spesial iKON Story

Tittle : Stay

Cast : Kim Hanbin

          Amelia Rahma

          Koo Junhoe

Genre : Hurt Romance // School Real Life

Kategori : TeenLite Fiction

Lenght : Chaptered

Post Publik : All Age

——-

Summarry


This paint is so beautiful, same like you

Even i ask the heaven to pretend but this is real i don’t know

I can’t get you out my mind





—-






“Hanbiiinnnn,,,,buruan bangun atau anak kambing lo bakalan jadi menu makan malam” teriakan cempreng Hani menggelora diseluruh sudut rumahnya. Seharian penuh Hani dibikin jengkel sama anakan Kambing hitam kesayangan adiknya, Hanbin Septiyan Nugraha. Kepanjangan? Panggil aja Hanbin.

Mendengar suara kakaknya yang cempreng itu menusuk gendang telinganya, Hanbin yang masih terbuai mimpi akhirnya menggeliat malas dan beranjak kekamar mandi untuk mencuci muka. Hari minggu, adalah hari paling indah bagi Hanbin. Karna dia bisa tidur nyenyak hingga sang mentari tepat diatas kepala. Namun semenjak kehadiran ‘Amme’ anak kambing berwarna hitam itu, hari minggu Hanbin hampir tidak pernah indah lagi. Karena ketika dirinya masih ingin menikmati mimpi, teriakan cempreng kakaknya selalu menghapus semua mimpi-mimpi indah Hanbin.

Lima menit kemudian Hanbin mencari keberadaan kakaknya, Hani tengah berada dikebun belakang rumahnya. Tadinya Hani ingin menanam ubi jalar serta beberapa sayur mayur disana, tapi alangkah dongkol-nya hati Hani ketika bibit ubi jalar sama bibit sayurannya dimakan habis oleh Amme. Enggak itu aja, tadi pagi pas Hani baru bangun, dirinya sudah diberi kejutan oleh Amme. Kasur lantainya basah kuyub dikencingin Amme, belum lagi ember cuciannya penuh sama eeg-nya Amme.

Kalo gak inget betapa sayangnya Hanbin sama kambing itu, mungkin menu makan siang Hanbin sama Hani adalah sate kambing. Melihat Hani yang asik ngedumel gak jelas sambil menyiram tanah yang kering, Hanbin melangkahkan kakinya mendekati Amme yang diikat dipagar belakang rumah.

“Kok kakak jahat sih?” Tanya Hanbin sambil ngelepas ikatan Amme.

“Jahat-jahat embahmu jahat, elo gak ngerasain jadi gue Bin, liat kelakuan anak lo” Hani menunjuk akar tanaman yang berserakan ditanah akibat ulah Amme, hanya tinggal akar dan beberapa batang bibit sawi dan juga tomat.

Hanbin melihat sekilas kemana arah yang kakaknya tunjukin, dia lantas mencebikkan bibirnya.

“Lagian siapa suruh kakak naruh bibitnya sembarangan, jangan salahin Amme dong kak, Am-”

“Belain aja terus” belum selesai Hanbin bicara, Hani udah memotongnya.

“Lebih penting anak kambing lo itu ya daripada hidup lo sendiri. Kalo gitu elo makan, sekolah sama uang saku minta sama wedus ireng-mu itu. Jangan minta sama kakak, dimata lo kan dia yang paling bener” kesal Hani sembari melangkah masuk rumah. Hanbin hanya bisa melongo.

Enggak cuma hari ini Hanbin berantem sama Hani gara-gara Amme, udah sering. Bahkan hampir tiap hari semenjak kehadiran Amme, Hani musti selalu emosi berapi-api. Hanbin lantas membawa Amme masuk rumah.
Selang tiga puluh menit kemudian, Hani udah rapi dengan stelan baju warna merah. Hanbin menatap Hani yang sekarang memandangnya. Jujur Hani masih kesal, tapi? Please anak kambing itu gak penting. Nampak Hani menghela nafas panjang, Hanbin menunduk memberi makan Amme.

“Kakak udah masak makan malam tadi, elo jaga rumah baik-baik” pesan Hani kemudian.

“Kakak sift malam?” Hani mengangguk, “Boleh gak gue minta Bobby nemenin malam ini?” Tanya Hanbin kemudian.

“Terserah, yang penting rumah jangan elo berantakin sama pampers dan juga kotoran piaraanmu itu” Hani nunjuk Amme menggunakan dagunya.

“Siipp” Hanbin memberi dua jempol.

“Yaudah kakak berangkat, bye” Hanbin melambaikan tangannya.
Tiga tahun yang lalu semenjak Ayah dan Ibunya meninggal, Hani harus bekerja keras demi kelangsungan hidupnya bersama Hanbin. Masa pendidikannya dibangku kuliah yang tinggal dua semester lagi harus Hani lupakan demi masa depan adiknya, kecelakaan pesawat itu mengakibatkan Hani seolah terpukul ribuan biji besi. Ayah dan Ibunya menjadi korban, meninggalkan dirinya dan juga Hanbin yang masih duduk dibangku SMP. Semenjak saat itu Hani berubah jadi makhluk paling cerewet dan bawel, padahal dulunya dia adalah sosok pendiam. Namun demi kebaikan adiknya yang kadang-kadang suka seenaknya sendiri, Hani merubah strategi hidupnya demi masa depan dia dan adik lelakinya itu.

****

Tigapuluh menit sudah sepeninggal Hani, Hanbin cuma tidur-tiduran disofa ditemani Amme dengan kotak rumputnya. Bobby yang ia telpon sejak limabelas menit yang lalu tak kunjung menampakkan batang giginya. Merasa bosan Hanbin menyalakan tivi dan menonton acara sore itu, iya ini udah sore. Udah jam 15.00 wib, Hanbin bangun tidur jam duaan. Kebo sih emang, mentang-mentang hari minggu.

Enggak lama kemudian terdengar sebuah ketukan pintu, Hanbin mengecilkan volume tivinya. Dahinya mengernyit sembari beranjak menuju kearah pintu. Dalam hati Hanbin bertanya, siapa yang dateng? Kalo Bobby sama Donghyuk. Udah pasti dua makhluk itu gak akan nunggu ketok pintu dulu. Pasti asal nyelonong sambil teriak-teriak kayak orang kebakaran sempak, tapi ini enggak. Hanbin membukakan pintu, dirinya sedikit terhenyak saat melihat siapa yang datang.

“Hanbiiinnnn” dengan cengiran lebarnya seorang gadis menyapa Hanbin sambil melambaikan tangan.

Hanbin hanya terdiam dan mempersilahkan gadis itu masuk.

“Elo kemana aja sih? Di sms gak dibales? Tadinya kan gue mau ngajakin elo jalan Bin, mumpung hari minggu hehe” ucap gadis tersebut masih dengan cengirannya.

“Gue sibuk bantuin kak Hani nanem sayur” jawab Hanbin sembari duduk disofa diikuti sang gadis.

“Hah,,,pasti elo capek banget ya? Ampe lemes gitu, sini gue pijit” gadis itu merenggangkan kedua tangannya namun ditampik oleh Hanbin.

“Gue baru bangun tidur”

“Lah, katanya habis berkebun? Kok sekarang bangun tidur?”

“Setelah berkebun gue tidur”

“Oohhh,,,”

Sesaat suasana hening, hanya bunyi tivi dan suara Amme yang menghiasi ruang tamu.

“Ngapain lo kesini?” Tanya Hanbin mencairkan suasana.

“Kok nanya-nya gitu sih Bin? Ya gue kangen elo lah? Secara udah hampir dua minggu kita jarang ketemu disekolah. Elo sibuk sama kegiatan lo, dan gue juga sibuk sama team cheers gue. Jadi kalo gue kangen elo itu wajar kan? Gue dateng kesini karna sms gue gak pernah elo bales, jadi gue pengen tau elo kenapa?” Jelas gadis tersebut panjang lebar.

“Gue gak papa, gue gak liat sms lo, maaf”

Dan itu adalah balasan dari Hanbin, sejenak gadis itu terdiam kembali.

“Mau minum apa?” Hanbin kembali bertanya.

“Apa aja” jawaban gadis tersebut singkat.
Hanbin lalu beranjak menuju dapur, sedangkan gadis itu sekarang tengah bermain dengan Amme. Selang beberapa menit Hanbin kembali membawa dua kaleng soft drink, ia meletakkannya dimeja. Gadis itu menoleh kearah Hanbin,

“Soft drink?” Tanyanya, Hanbin mengangguk. “Gue kan gak minum soft drink Bin” lanjut gadis tersebut. Hanbin mengernyit, dia lupa kalau kekasihnya itu tidak pernah minum minuman bersoda. Iya, gadis ini kekasih Hanbin.

“Oh,,sorry gue lupa” jawab Hanbin sembari mengambil kembali kedua kaleng minuman itu, namun dicegah oleh si gadis.

“Gak papa gak usah dibalikin, biarin disitu aja”

“Katanya gak minum soft drink”

“Udah terlanjur elo ambil, gue gak mau ngerepotin elo. Mendingan sini main sama Amme” ajak sang gadis kemudian. Belum sempat Hanbin beranjak, suara teriakan membuat Hanbin dan sang gadis menoleh bersamaan.

“Sa ik mameeeennnn,,,nyuruh kita kesini ternyata cuma buat obat nyamuk” ini Bobby sama Donghyuk yang dateng, udah dibilang kan mereka kalo dateng asal nyelonong sambil ngomel-ngomel. Nah ini, kali ini terjadi.

Mereka lantas membuang diri diatas sofa, Bobby langsung selonjoran. Sedangkan Donghyuk meletakkan dua kresek berisi cemilan di meja, mereka kalo dateng kerumah Hanbin gak pernah tangan kosong. Selalu bawa makanan, karna mereka tau. Hanbin gak akan ngasih suguhan apapun kecuali nasi, wajarlah Hanbin hanya sendiri bersama Amme. Tiap hari Hani pergi bekerja, pagi pergi pulang malam. Sabtu-Minggu sift malam, membuat Hanbin terkadang kasihan dengan kakak perempuannya itu.

Melihat kedatangan Bobby sama Donghyuk, Hanbin lantas menyerahkan dua kaleng minuman tadi ke mereka.

“Kebetulan elo berdua dateng, nih minum” kata Hanbin.

“Emang ini punya siapa?” Donghyuk keppo.

“Tadinya buat Amel, tapi dia kan gak minum soft drink” jawab Hanbin.

“Anak cheerleaders emang gak boleh minum alkohol ya Mel?” Kali ini Bobby yang bertanya. Gadis yang sedari tadi disini itu namanya Amel, dia pacar Hanbin. Anggota Cheerleaders disekolahnya.

“Bukan begitu Bob, gue emang gak minum minuman soda. Gak kuat gue, pernah nyicip aja gue keselek” jelas Amel yang justru ditertawakan oleh Bobby dan juga Donghyuk.

“Pacar lo perlu direndem alkohol Bin” cela Donghyuk, Hanbin hanya diam menatap layar tivinya.

“Eh main PS yukk, udah lama gue gak tanding PS sama elo Bin” ujar Bobby kemudian.

“Boleh siapa takut, kebetulan dua hari yang lalu kak Hani beliin gue kaset PS baru” jawab Hanbin.

“Aseekkk cocok lah, kuy mainkan”
Hanbin sama Bobby lantas asik bermain PS, sedangkan Donghyuk sibuk dengan ponselnya. Dan Amel, gadis itu masih bersama Amme.
Terselip sedikit rasa kecewa dihatinya, mengapa harus dia datang kesini kalo hanya diabaikan saja. Tapi rasa rindunya akan sang kekasih membawanya kesini. Dua tahun yang lalu, Amel melakukan kebodohan yang mengakibatkan dirinya menjadi kekasih Hanbin.

Tau Masa Orientasi Siswa kan? Atau yang lebih dikenal dengan singkatan MOS? Disaat itulah cerita konyol seputar bagaimana Hanbin dan Amel jadian, kakak pembina MOS meminta peserta didik baru yang perempuan untuk membuat sebuah puisi cinta. Ditujukan kepada siapapun bebas, dan sialnya Amel memilih Hanbin. Dan karna itulah, Amel menjadi kekasih Hanbin. Hal yang paling memalukan yang pernah Amel lakukan, membaca puisi cinta sambil berjoget didepan semua peserta didik baru. Namun perbuatannya itu tidak sia-sia, karna selang beberapa hari Hanbin malah menyatakan cintanya terhadap Amel. Entah itu keajaiban atau apa? Yang jelas, Hanbin yang dulu Amel kenal, dengan Hanbin yang sekarang sudah berbeda.
Mau tau kelanjutannya?
~To Be Continue~
Voment guys 😍😍😍

Angel Heart [Chap II]

Request Story

Cast : Lee Taeyong

          Nakamoto Yuta

        Ten ChittaponLeechaiyanPornkul

         Angella Richi (spesial Cast)
Genre : Romance // School Real Life

Kategori :  Fun Story // TeenLite Fiction

Post Publik : All Age

Lenght : Chaptered

——

Pagi-pagi buta Angel udah rapih, dia udah siap dengan seragam biru muda kotak-kotak dibalut blazer warna biru tua ditambah rok pendek berwarna biru donker. Tengah mengepak beberapa benda yang menurut lo itu gak penting buat dibawa kesekolah tapi harus? Lah? Hari ini Angel bersama kedua teman squad unyu-unyu-nya, Lisa sama Lami. Bakalan ngadain b’day party buat temen sekelasnya ‘Jaemin’. Anak juragan Kambing itu tengah berulang tahun, harusnya sih kemarin, tapi karena kemarin Jaemin gak masuk sekolah karena ikut study banding alhasil hari inilah Angel ‘Cutie Squad’ begitu julukan ketiga gadis tersebut merayakannya untuk Jaelani Tamrin Alfatih atau yang akrab disapa Jaemin ini.

Yuta yang baru bangun dan ingin memberi tau Angel kalau dia gak bisa anter kesekolah-pun dibuat kaget. Melihat penampilan adiknya yang udah dandan rapih mengenakan seragam.

“Tumben” ucap Yuta ketika dirinya nyelonong masuk kekamar adiknya gitu aja. Angel yang lagi asik-pun terhenyak kaget,

“Kebiasaan, ketok pintu dulu kek. Asalamualaikum atau Bounjor gitu, ini mah asal nyelinep ae. Ntar kalo Angel lagi telanjang gimana?” Kesal Angel bertubi-tubi. Yuta mengindahkan ucapan adiknya dan mengorek telinganya yang gak gatel.

“Menstruasi ya lo galak amat, biasanya jam segini elo kan masih ngiler. Wajar dong kalo gue asal masuk, karna biasanya gue ketokin pintu lo ampe bolong juga elo gak ada nyaut” balas Yuta gak mau kalah.

“Biasanya? Itu kan biasanya? Hari ini gak biasa”

“Mau kemana lo bawa popper segala?”

“Orang tua dilarang keppo”

“Mau bolos sekolah kamu? Udah ngerasa pinter ya? Mentang-mentang juara kelas tiap tahun terus sekarang mau nyobain jadi Bangsat?

Angel menganga mendengar ucapan kakaknya barusan, kayaknya semalem Yuta gak tuntas mimpi basahnya. Makanya ngomong gak pake mikir, Angel mendengus kesal. Ditentengnya tas punggung miliknya dan segera berlalu meninggalkan kamarnya.

“Heh mau kemana kamu? Kakak belum selesai bicara” Yuta ngikutin Angel kearah dapur.

“Ini masih pagi, Angel gak mau debat sama ‘orang utan’ yang gak pernah mau ngertiin adeknya sendiri”

“Mulutnya suka kurang ajar ya?”

“Kak, bisa gak sih kakak tuh sekali aja biarin Angel ngelakuin apa yang Angel mau? Jangan semua hal musti kakak batasin kak, Angel capek” tiba-tiba suara Angel meninggi. Kesal jelas terpancar diwajah cantiknya yang udah dibalur make-up tipis dan lipbalm warna peach yang anggun.

Yuta terdiam sejenak, dia menatap wajah sang adik dalam-dalam. Begitu sebaliknya, Angel menggenggam tali tasnya kuat-kuat untuk menahan emosinya. Yuta berjalan mendekati Angel,

“Maaf kalo kakak keterlaluan, kakak cum-“

“Kak, Angel udah gede. Angel bisa jaga diri, kalo kakak takut Angel diculik lagi kayak dulu. Angel bisa pastiin itu gak akan terjadi lagi, Angel bisa Taekwondo, Angel bisa beladiri, gak usah berlebihan. Dan satu lagi kak, Angel gak pernah kepikiran buat belajar jadi Bangsat kayak apa yang kakak bilang tadi”

Disini Yuta terkena skak mat, adiknya marah begini gara-gara dia bilang ‘mau belajar jadi bangsat’. Keterlaluan sih emang? Tapi itu semua adalah bentuk ketakutan Yuta terhadap adik kesayangannya itu, dia gak mau Angel salah jalur, dia gak mau adik gadisnya itu kenapa-napa. Yuta kembali terdiam, Angel menemukan ekspresi bersalah Yuta disana. Akhirnya Angel yang ngalah, dia berjalan mendekati Yuta dan meraih lengan kakaknya itu.

“Hari ini Angel mau ngerayain ulang tahun temen Angel disekolah, Angel, Lami, Lisa sama Haechan mau ngasih party kejutan buat Jaemin. Anaknya pak Jimin juragan kambing itu, kakak tau kok anaknya yang mana? Makanya Angel mau berangkat pagi, kakak gak usah anterin Angel. Angel berangkat bareng Haechan dan juga yang lain. Mereka udah nunggu di halte” jelas Angel panjang lebar. Yuta menatap wajah cantik adiknya yang sekarang kelihatan serius.

Satu hal yang membuat Yuta gak pernah berpikir buat marah sampai yang benar-benar marah sama Angel, rasa pengertian Angel. Itu, point paling dikagumi Yuta dari sang adik. Sekalipun selama ini Yuta selalu egois, tapi Angel berusaha untuk mengerti itu. Bukankah semua ke-egoisan Yuta itu juga buat kebaikannya sendiri juga?.

Yuta tersenyum dan memeluk adiknya,

“Maafin kakak ya, udah bikin ‘unyil’ kakak ini emosi pagi-pagi” sesal Yuta sambik cengangas-cengenges. Angel membalas pelukan kakaknya.

“Lain kali jangan bilang Angel bangsat kak, bilang Laknat aja sekalian” ucap Angel, Yuta terkekeh.

“Kakak pikir kan kamu mau nyaingin kakak”

“Oh, jadi ngaku ya kalo selama ini kakak itu bangsat”

Yuta melepas pelukannya dan mengacak rambut Angel.

“Makanya jangan ditiru, udah sana pergi”

“Kok ngusir”

“Katanya temen lo udah nungguin”

“Yaudah mana uang saku” Angel nodong Yuta, sebelum memberi apa yang Angel mau. Yuta mencubit hidung mungil adiknya dan merogoh kantong celana kolor yang ia kenakan.

“Dua puluh ribu cukup kan? Nanti siang kalo kakak udah balik duluan kakak jemput” Angel mengangguk dan menerima selembar dua puluh ribuan.

“Makasih” ucap Angel sumringah. “Angel berangkat, bye bye” tutupnya sambil berlalu meninggalkan kakaknya.

“Hemm,,,ati-ati dijalan” jawab Yuta tersenyum memperhatikan kepergian adiknya.








*****






~Ssshhhhh aaaahhhhhh~

~srooootttt…ssrrroootttt~

~Sssshhhhh aaahhhhhh~



Suara itu terdengar udah gak tau berapa kali sepanjang pagi ini, Johnny tengah menikmati secangkir kopi panasnya yang ia minum menggunakan sedotan. Melihat kelakuan sahabatnya yang kurang IQ ini Taeyong menggelengkan kepalanya berkali-kali.

“Kenapa gak sekalian kopi lo, lo taruh ember terus elo sedot pake selang” cela Doyoung yang sedari tadi juga menyaksikan kelakuan gak masuk akal Johnny.

Johnny menuang kopinya dipiring, katanya panas, kalo gak dijabarin gak cepet dingin. Dia menuang kopinya sedikit demi sedikit terus abis itu dia tiup-tiup, ketika udah dingin dia sedot kopinya pake sedotan aqua. Kalau orang idiot berkelakuan demikian mungkin kita yang waras bisa memakluminya. Tapi sayangnya yang begini tuh justru waras, jadi kita yang waras musti jadi idiot gitu? Tolong carikan psekiater setelah ini.

Johnny tak mengindahkan ucapan Doyoung, dia masih asik dengan aktifitasnya. Tak lama kemudian muncul Yuta, Taeyong yang tadi asik main HP lantas mengalihkan perhatiannya ke Yuta.

“Lama amat sih?” Sapa Taeyong begitu Yuta mendudukkan dirinya disamping kanan Taeyong.

“Gue debat dulu sama adek gue” jawab Yuta sambil menyeruput kopi Taeyong.

“Emang adek lo kenapa?” Tanya Taeyong lagi.

“Dia kesekolah bawa popper party, yaudah gue curiga kalo dia gak sekolah. Dianya malah marah” jelas Yuta.

“Lagian elo, adek lo udah gede Yut, bukan anak SD lagi yang kemana-mana musti lo selidikin” kali ini Doyoung ikut ambil andil.

“Justru karna dia udah gede gue musti extra waspada, elo kan tau pergaulan anak jaman sekarang kayak gimana. Ditambah lagi temen-temennya Angel tuh semuanya pada gak jelas” 

“Tapi kan gak harus juga elo overprotektif sama dia, ntar yang ada. Adek lo bukannya nurut sama elo lagi, tapi malah ngelawan dan kebangsatannya ngalahin elo. Secara adek lo itu kan cantik, semok, sexy”


~pletaakkk~


“Adooohhh,,,setan. Kok elo nabok gue nyet” teriak Johnny. Yuta menggeplak kepala Johnny yang seenak jidat ikutan bicara tapi mulutnya isinya sampah.

“Congor lo rubbish sempak kuda” kesal Yuta.

“Kayak congor lo suci aja kutil badak”

“Ngomong sama elo emang musti bawa martil ya John”

“Udah-udah, ini masih pagi. Jangan ribut mulu bisa gak sih? Lama-lama elo berdua gue kawinin kalo tiap ketemu kerjaannya berantem mulu” Taeyong menengahi.

“Nih, bekantan jepang yang mulai”

“Elo yang duluan monyet amerika”

“Elo yang nyari gara-gara”

“Kok gue, elo yang—–”
Taeyong sama Doyoung menghela nafas panjang melihat kedua rekannya ini. Diperingatin bukannya reda malah makin memanas perdebatan mereka, sampai semua isi kebun binatang keluar semua. Bahkan yang sering ngambang dikloset juga hadir, jengah dengan Johnny dan juga Yuta. Taeyong sama Doyoung lantas menghabiskan kopinya dan beranjak dari tempat duduk masing-masing.

“Yong, mau kemana?” Seru Yuta ketika menyadari Taeyong udah dua langkah meninggalkan dirinya dan Johnny.

“Kelas” jawab Taeyong singkat.

“Tungguin” Yuta buru-buru beranjak dan berlari mengejar Taeyong yang udah duluan.

“Oiiii bekantan, ini kopi gue gimana? Siapa yang bayar? Sempak buaya emang” Johnny mencak-mencak sendiri karna sekarang dia hanya sendirian di kedai kopi yang terletak berjejeran dengan kantin kampusnya. Karna suasana sangat sepi dan hanya tinggal dia sendiri disana, Johnny mengendap-ngendap meninggalkan kedai tersebut. Tapi,,,!!!

“Heh mas bule, kopine dibayar ndisit. Hari ini saya ndak melayani utang, utangmu seminggu yang lalu saja durung lunas” cegat mbak Surti, penjual kopi yang bahenolnya ngalahin Hyorin Sistar. Sambil berkacak pinggang mbak Surti menghadang Johnny yang sekarang cengar-cengir minta ditabok sempak.

“Hehe mbak Surti” masih dengan cengirannya Johnny berkata demikian.

“Hemm iya ini saya, Surti Suryati Mekar Mewangi Sepanjang Hari, kenapa mas bule? Mau kabur ya? Ndak mau mbayar kopine alasan kebelet pipis?” Ledek Mbak Surti. Johnny menggaruk tengkuknya yang gak gatel.

“Emang utang saya berapa mbak?” Tanya Johnny kemudian.

“Utang mas bule ndak banyak, cuma 70 ribu, itu pless utang minggu lalu” jelas mbak Surti sambil ngetik di kalkulator.

“Etdah, 70 rebu dibilang gak banyak. Perasaan gue kesini juga cuman minum kopi doang. Mbak Surti kan cuma jualan kopi, gak jualan yang lain juga” protes Johnny.

“Lhooo,,,mas bule kok malah kesel piye to? Minggu lalu mas bule lali yo, mas bule ngajak temen basketnya ngopi disini. Katanya mas bule sing nraktir, tapi jebul diutangke. Terus abis itu mas bule ngajak itu cilider yang suka njoget kalo ada tanding basket itu, ngopi juga disini. Sama tadi ini mas Taeyong, Mas Duyong juga”

“Doyoung, Duyong? Kenapa gak sekalian duyung aja” Johnny membenarkan ucapan mbak Surti.

“Lah saya kan wong njowo mas, gak iso ngomong Doyoung”

“Lah itu apa?” Johnny nunjuk-nunjuk mbak Surti.

“Hehe keceplosan mas” mbak Surti cengengesan. “Wis ndi kene 70 ribune? Atau mau tak naikin jadi 100 ribu?”

“Apaan gila, enggak. Nih” dengan sedikit kesel Johnny ngasih mbak Surti uang 70 ribu.

“Laahhh gitu dong mas bule, kalo gini kan saya seneng jadinya” kata mbak Surti sambil nyium-nyium duitnya.

“Boleh pergi gak nih?” Tanya Johnny kemudian yang masih dihalangi mbak Surti sambil ngangkang.

Yowis kono ndang minggat” ucap mbak Surti sambil menyingkir.

Bakul kopi edan” ucap Johnny.

“Heh,,,pieee? Ngomong opo sampean? Oalah awas ya…kalo berani kesini lagi tak sunati sampe entek manuk e” kesal mbak Surti yang mendengar ucapan Johnny barusan. Sayangnya Johnny-nya udah kabur melarikan diri sebelum dia disunat sama mbak Surti.


~to be continue~

Voment guys πŸ˜‰πŸ˜‰πŸ˜πŸ˜πŸ˜

Angel Heart


Request Story

Cast : Lee Taeyong NCT

          Nakamoto Yuta NCT

         Ten LeeChaiyanPornKul NCT

         Angella Richi (Spesial Cast)



Genre : Romance Teenfiction

Kategori : Fun Story // Real Life School

Lenght : Chaptered

Post Publik : All Age

——-

Summarry


Terkadang kita gak pernah sadar akan cinta yang sesungguhnya itu ada didekat kita. Menemani kita setiap saat tanpa kita meminta, melengkapi kita tanpa kita ketahui. Ketika kita mengetahui itu namun terlambat, apakah kita termasuk orang yang gak tau diri? Bukan, cukup tetaplah jadi diri sendiri yang mampu membuat dia terus bertahan untuk melengkapi kekurangan kita. Dan biarkan cintanya mengerti akan ketidak pahaman kita. Karena itulah yang disebut ‘Angel Heart’




*****






Punya adek cewek udah gede tuh bikin ribet, banyak khawatirnya dan bikin nambah beban pikiran. Apalagi kalo dia pinter, terus cantik, banyak cowok ngelirik dan kadang gak jarang juga ada yang sksd alias sok kenal sok dekat. Menye-menye gak jelas, makin bikin ketar-ketir kan?. Dan itulah yang saat ini dirasakan oleh Yuta, Yulian Pratama atau yang akrab disapa Yuta adalah putra pertama dari pasangan Nakato Pratama dan Fifian Sasuka. Pasangan suami istri yang berasal dari negeri Jepang, namun asli Indonesia. Memiliki adik perempuan yang sangat cantik, bernama Angelina Yustika Pratama.
Siswi kelas XI SMA Merah Putih tersebut selalu jadi pusat perhatian para pria, baik itu disekolahnya, lingkungan rumahnya maupun teman kuliah kakaknya. Jangan heran guys, namanya juga keturunan orang Jepang. Jadi cantiknya itu udah kayak salah satu member AKB48 yang namanya Ayu Ting Ting πŸ˜‚ hahaha. Canda elah.

Pokoknya dia cantik, blasteran kok ya. Setiap hari, Yuta harus rela antar jemput adeknya ini kesekolah. Ya walaupun kampus sama sekolahan adeknya lumayan jauh, tapi Yuta gak punya pilihan. Karena ia takut kejadian tiga tahun yang lalu terulang lagi. Pas waktu masih kelas IX SMP, Angel. Begitu sapaan gadis cantik tersebut, pernah diculik. Dan semenjak itulah Yuta rela bangun pagi buat nganterin adeknya dulu kesekolah.

“Jadi minggu depan sekolahanmu itu ngadain Camping?” Tanya Yuta sambil mengunyah sarapannya.

“Iya kak, Angel udah ijin ke Mama sama Papa, mereka bilang musti ijin juga ke kakak” jawab Angel sembari mengoles rotinya dengan selai.
Mama sama Papa Angel sekarang ada di Jepang, jadi Angel di Jakarta cuma tinggal sama Yuta. Mendengar penjelasan Angel, Yuta cuma diam. Jujur dia gak bisa ngelepas adiknya gitu aja, apalagi Yuta tau Camping disekolahan adiknya itu. Pasti perginya selalu ke gunung, atau kalau enggak ke hutan. Jadi gak gampang buat Yuta buat bilang ‘oke’ gitu aja. Angel menatap wajah kakaknya tersebut, ekspresinya seolah berharap kakaknya bakalan bilang ‘Yaudah pergi aja, kamu kan udah gede. Bisa jaga diri pasti’ gitu.

Tapi sayang, itu cuma harapan. Yuta malah buru-buru nyelesaiin roti sandwichnya dan ngajak Angel berangkat. Katanya takut telat, dengan sedikit kecewa Angel cuma bisa manut.

****

“Jadi gimana Njel? Elo jadi ikut Camping kan? Katanya bakalan ada anak Mapala dari Universitas Jaya Sakti yang bakalan mandu acara Camping kita nanti” celoteh Lisa panjang lebar.

“Haih,,entahlah Lis? Elo kan tau sendiri gimana kakak gue?” Jawab Angel sembari menghela nafas panjang.

“Kakak lo tuh gak seru Njel” kali ini Lami ikutan angkat bicara.

Jam istirahat ini, Angel, Lisa sama Lami lagi duduk santai dikantin. Sambil nikmatin es jeruk, mereka ngebahas tentang acara Camping yang rutin dilaksanakan setiap tahun menginjak kenaikan kelas tersebut. Lagi-lagi Angel hanya bisa menarik nafasnya dalam-dalam. Mengingat ucapannya tadi pagi hanya direspon wajah datar dari kakaknya tersebut.

“Pada ngomongin gue ya? Asik bener” tiba-tiba tanpa diundang, Haechan langsung nyempil diantara mereka.

“Pede banget lo upil singa” cela Lami.

“Kalo upil singa seganteng gue? Terus tai-nya pasti ngalahin Justin Bieber? Ya gak Njel?” Haechan menyenggol lengan Angel yang lagi asik nopang dagu.

“Jorok banget sih lo, ngebahas tai segala” protes Lisa.

“Temen lo tuh yang mulai”

“Lagian elo, dateng-dateng gak jelas”

“Gue kan nanya?”

“Pertanyaan lo itu gak berfaedah shinChan”

“Sok kecakepan lo pensil alis”

“Apa lo bilang”

“Bisa diem gak sih?” Bentak Angel kemudian, telinganya udah gatel tiap hari musti ngedengerin debatannya Lisa sama Haechan.

Haechan sama Lisa langsung kicep, Lami menahan tawanya melihat ekspresi kesal kedua sahabatnya ini.

“Eh, tapi ngomong-ngomong Njel. Kakak lo kan juga anggota Mapala? Kali aja yang mandu acara Camping kita ntar itu kak Yuta, kakak lo” ucap Lisa mencoba mencairkan suasana kembali, setelah beberapa saat hening.

“Wah, bener juga tuh” tambah Lami.

“Ya gak mungkin lah, kalo bener dia yang mandu, udah pasti dia nandatanganin surat ijin itu” jawab Angel masih dengan kekesalannya.

“Tapi kan bisa jadi aja kakak lo belum tau, atau emang sengaja gak mau ngasih tau elo gitu. Biar surprise.

“Udahlah males gue bahas itu mulu, kelas yuk. Bentar lagi masuk”

Mengingat jam istirahat sebentar lagi habis, akhirnya Angel memutuskan buat menyudahi acara kumpul-kumpulnya dan kembali kekelas.

******

Malam ini Angel lagi santai dibalkon rumahnya sambil baca FF, itu tuh cerita yang main castnya para idola tuh. Apalagi sekarang kan banyak tuh website yang menyediakan jasa membaca cerita gratis. Jadi ya gak usah heran kalau remaja sekarang lebih suka baca FF daripada baca buku pelajaran. Lagi asik ngebaca, dirinya dikagetkan sama Yuta yang tiba-tiba ndelosor dipangkuannya. Karena reflek, Angel memukul Yuta.

“Aduh” pekik Yuta ketika pipinya mendapatkan sebuah hadiah berupa tampolan dari sang adik.

“Eh, maaf kak sengaja” jawab Angel sambil terkekeh.

“Kurang ajar ya punya adek” kesal Yuta sambil ngegosok pipinya.

“Siapa suruh ngagetin?”

“Siapa suruh melototin hp terus? Kasian hpnya mabok elo liatin mulu, bukannya belajar malah asik chatingan”

“Sok tau, orang tua dilarang berisik. Lagian siapa yang chatingan, pacar aja gak punya”

“Eh, jomblo ya?”

“Enggak usah ngeledek, kita senasib”

“Haha, baperan lo?”

“Nyesel akutuh punya kakak”

“Mulutnya tolong dikondisikan”

“Kakak tuh kalo ngomong suka pedes”

“Cabe kali pedes”

“Kak”

“Hemm” kali ini Yuta sambil mainin hpnya juga.

“Kata Lisa, acara Camping disekolahan Angel itu. Pemandunya dari Universitas Jaya Sakti, itu kampus kakak kan?” Tanya Angel memastikan.

“Iya, emang kenapa?”

“Kalo anak Mapala Jaya Sakti, berarti ada kakak juga dong?” Angel coba memancing Yuta.

“Enggak” masih dengan cueknya Yuta menanggapi setiap pertanyaan Angel.

“Loh kok? Kakak kan juga anggota Mapala? Wakil ketuanya malah? Kok gak ikut?” Kaget Angel.

“Gue ada jadwal lain, kalo elo nanyain soal ini buat minta ijin gue. Oke gue ijinin” Yuta menggantung kalimatnya, Angel tersenyum sumringah. Angel lantas meletakkan hpnya dan megangin tangan Yuta.

“Beneran kakak ngijinin Angel pergi?”

“Iya, tapi ada syaratnya”

Seketika Angel kehilangan senyumannya, udah pasti kakaknya bakalan membuat beribu-ribu deret peraturan yang harus Angel lakuin dan udah pasti bakalan ada mata-mata yang ngawasin Angel untuk itu. Gimana Angel bisa tau? Jangan goblok, hal ini terjadi gak cuma sekali. Bahkan cuma acara makan bersama disekolahan aja pas ulang tahun SMA Merah Putih. Yuta nyewa BodyGuard buat ngawal Angel, gara-gara Yuta gak bisa dateng dengan alasan pergi ke club bareng Ten sama Taeyong buat ngerayain ulang tahunnya Jennie. Egois emang, adek sendiri dinistain. Punya kakak begitu musti ekstra sabar ya Njel, banyak-banyakin berdoa biar kakak lo cepet sadar.

Angel ngelepas tangannya dari tangan Yuta, seketika ekspresinya jadi gak mood. Yuta melirik adiknya tersebut, dia menemukan airmuka sang adik tengah menandakan bahwa dia tidak bahagia. Yuta lantas mendudukkan dirinya berhadapan dengan Angel, catatan : tadi Angel duduknya lesehan dilantai Balkon rumah. Jadi jangan salah paham hehe.

“Kesel kakak bilang ada syaratnya?” Tanya Yuta memastikan.

“Ya menurut kakak?” Balas Angel jutek.

“Kakak gak perlu ngejelasin alasannya kan? Tenang aja, kali ini kakak gak mau ngasih peraturan apa-apa kok, kamu cukup ikuti dia aja” jelas Yuta menggantung.

“Dia itu? Bodyguard suruhan kakak maksudnya?”

“Ini lebih dari sekedar Bodyguard, karna dia yang bakal ngawasin acara Camping lo nanti itu”

“Siapa emang?”

“Taeyong”

“What?”

Seketika mata coklat Angel membulat sempurna manakala Yuta menyebut nama Taeyong. Septian Lee Taeyong Firmansyah *etdah panjang amat namanya kayak rel kereta* atau yang akrab disapa Taeyong ini, adalah sahabat karib Yuta sejak Yuta masih SMA. Angel tau betul siapa Taeyong dan bagaimana dia, cowok ganteng dengan postur tubuh yang atletis ini memiliki sisi kedisiplinan yang sangat ketat. Salah dikit hukuman berlaku, Yuta aja pernah dihukum gara-gara ngelanggar peraturan. Padahal dulu yang ngajak Taeyong masuk Mapala itu Yuta, tapi karna ketegasan serta kedisiplinanya itulah dia diangkat sebagai ketua. Dan Yuta wakilnya, tolong jangan ditanya kenapa Yuta cuma jadi wakil?. Jawabannya udah pasti karena dia itu kebalikannya Taeyong.

Angel mengedip-ngedipkan matanya sebagai rasa gak percaya-nya dia sama apa yang disampaiin sama kakaknya barusan. Yuta menarik nafasnya dalam-dalam dan beranjak dari tempat duduknya.

“Jadi gak maksa kakak buat ngasih ijin kan? Kakak ijinin kamu pergi, dan ikuti semua peraturan ketua Mapala. Tenang ada Doyoung, Jaehyun, Taeil sama Hansol kok. Gak akan ngebosenin kalo elo sama mereka” jelas Yuta sebelum ia masuk kedalam rumah.

Gue gak tau musti bersyukur apa bersedih ini? Tapi kenapa harus kak Taeyong yang ngawasin Camping gue ntar? Bisa jadi bola-nya gue,,,!!! Tamat sudah cerita…!?!







~to be continue~






VoMent guys πŸ˜™